Direktur Pengadaan Strategis I PLN Sripeni Inten Cahyani. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami.
Direktur Pengadaan Strategis I PLN Sripeni Inten Cahyani. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami.

PLN dan Masdar Percepat Pembangunan Proyek PLTS Terapung Cirata

Ekonomi pln plts
Suci Sedya Utami • 08 Januari 2020 10:59
Jakarta: PT PLN (Persero) akan mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung Cirata, Jawa Barat. Perusahaan setrum nasional tersebut bakal bekerja sama dengan perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA) Masdar.
 
Direktur Pengadaan Strategis I PLN Sripeni Inten Cahyani mengatakan pada 11 Januari esok, Power Purchase Agreement (PPA) akan diteken antara PLN dan Masdar dihadapan kedua pemimpin negara di Abu Dhabi. Presiden Joko Widodo dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke Abu Dhabi dan Dubai pekan ini.
 
"Setelah PPA, akan ada Financial close yang semoga satu tahun selesai, jadi harapannya pada 2022 proyek sudah bisa beroperasi," ujar Sripeni di Kantor Kemenko Maritim dan Investasi, Jakarta Pusat, Selasa, 7 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Masdar akan memiliki 49 persen saham di PLTS terapung pertama di dunia tersebut dan PLN memiliki saham mayoritas sebesar 51 persen. Mantan Dirut Indonesia Power itu mengatakan nilai investasi proyek ini sebesar USD129 juta atau setara Rp1,79 triliun. Proyek ini akan berjalan selama 25 tahun dengan kesepakatan harga listrik sebesar 5,8 sen per kilo watt hour (kWh).
 
Pembangunan PLTS Terapung Cirata akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, kedua perusahaan ini akan membangun PLTS dengan kapasitas 50 MW dan ditargetkan rampung pada awal 2021. Kemudian dilanjutkan dengan tahap kedua dengan target penyelesaian di 2022 sehingga kapasitasnya di tahun tersebut menjadi 145 MW.
 
Kapasitas PLTS Terapung Cirata yang bakal dibangun mengalami penyesuaian. Awalnya kapasitas PLTS tersebut sebesar 200 megawatt (mw).
 
Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah mengatakan penurunan kapasitas tersebut dihasilkan setelah adanya feasibility study (FS) atau studi kelayakan yang dilakukan PLN. Dia bilang dari luasan area waduk Cirata yang bisa mendapatkan cahaya matahari secara optimal dan dikonversi sebagai daya hanya mendapatkan angka 145 MW.
 
"Ketika dilakukan prasurvei ternyata hanya luasan itu yang mendapatkan sinar yang paling optimal, kalau dikonversi dalam bentuk daya hasilnya 145 mw," kata Dwi pada Medcom.id, pertengahan tahun lalu.
 
Dwi mengatakan hal tersebut tidak ada kaitannya dengan dana. Dia bilang prakiraan dana yang juga berubah menjadi lebih rendah dari sekitar USD300 juta menjadi sekitar USD150 juta hingga USD200 juta bukan alasan kapasitas proyek tersebut berkurang.
 
Menurut Dwi, bahkan kelebihan dana yang mungkin telah disiapkan diawal bisa dialokasikan untuk kegiatan lain. Demikian juga dengan kondisi kebutuhan yang ia bilang tidak menjadi alasan mengapa proyek tersebut dilakukan penyesuaian kapasitas.
 
"Tentunya kalau kita punya dana untuk kapasitas 200 mw, kemudian jadi 145 mw di sini, mungkin sisanya untuk 55 mw akan direalokasi dananya untuk ke yang lain," jelas Dwi.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif