Ilustrasi. FOTO: AFP
Ilustrasi. FOTO: AFP

Membaiknya Ekonomi Global Kerek Harga Minyak Mentah RI

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekonomi indonesia
Suci Sedya Utami • 07 Desember 2019 07:32
Jakarta: Pergerakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sepanjang November 2019 rata-rata bertengger di level USD63,26 per barel. Posisi tersebut menguat sebanyak USD2,44 per barel dari bulan sebelumnya yang sebesar USD59,82 per barel.
 
ICP Sumatran Light Crude (SLC) juga naik menjadi USD63,64 per barel di November 2019. Posisi tersebut naik sebesar USD3,66 per barel dari USD59,98 per barel pada Oktober 2019. Tim Harga Minyak Indonesia menyatakan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada November terpantau menanjak.
 
Hal ini disebabkan beberapa faktor yaitu respons positif pasar atas kondisi perekonomian global yang diindikasikan oleh optimisme pasar akan tercapainya kesepakatan dalam pembicaraan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok tahap pertama.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indikasi tersebut seiring dengan respons positif dari Presiden AS Donald Trump dan Pemerintah Tiongkok sehingga meningkatkan harapan pada perbaikan pertumbuhan ekonomi global serta permintaan minyak mentah global.
 
"Selain itu, keputusan Uni Eropa untuk menunda Brexit hingga pemilihan Parlemen Inggris selesai pada awal Januari 2020 mencegah berkembangnya risiko ekonomi yang substansial dalam jangka pendek," papar Tim Harga Minyak Indonesia, Sabtu, 7 Desember 2019.
 
Pemicu lainnya adalah ekspektasi pasar bahwa negara-negara penghasil minyak atau OPEC+ akan memperpanjang periode pemotongan produksi atau bahkan menambah besaran pemotongan produksi dalam pertemuan 5 Desember 2019.
 
Faktor lainnya, berdasarkan publikasi International Energy Agency (IEA) periode November 2019 melaporkan proyeksi permintaan minyak mentah global naik di kuartal keempat tahun ini. Kenaikannya sebesar 300 ribu barel per hari dibandingkan kuartal ketiga yang dihasilkan dari perbaikan pertumbuhan permintaan minyak mentah negara-negara OECD.
 
Selain itu, penurunan produksi Iran menjadi sebesar 2,15 juta barel per hari, yang merupakan produksi terendah sejak 1988, akibat pengenaan sanksi oleh AS.
 
"Energy Information Administration (EIA) melaporkan penurunan stok distillate AS pada November 2019 sebesar 3,4 juta barel menjadi sebesar 116,4 juta barel dibandingkan Oktober 2019, yang diakibatkan dari penurunan impor distillate AS dan operasional kilang AS," tutur Tim Harga Minyak Indonesia.
 
Selanjutnya, potensi meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah setelah beberapa kapal induk AS tiba di Teluk Persia yang meningkatkan ketegangan antara AS dan Iran, seiring Iran mulai melakukan percobaan nuklir di suatu fasilitas nuklir bawah tanah. Terakhir, penurunan jumlah rig minyak AS menjadi 668 rig, yang merupakan angka terendah sejak Maret 2017.
 
Untuk kawasan Asia Pasifik, kenaikan harga minyak mentah dipengaruhi tingkat pengolahan kilang yang menguat dengan mulai beroperasinya sejumlah kilang pengolahan baru di Tiongkok. Kemudian berakhirnya periode pemeliharaan kilang petrokimia di Korea Selatan dan peningkatan oil throughput beberapa kilang di negara Asia lainnya, seperti Taiwan dan Jepang.
 
"Pemberian stimulus fiskal dari pemerintah, berupa penurunan suku bunga dan penurunan pajak, untuk membantu perekonomian di beberapa negara, seperti Tiongkok, Jepang, dan India," kata Tim Harga Minyak Indonesia.
 
Selengkapnya perkembangan rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional yaitu:
- Dated Brent naik sebesar USD3,30 per barel dari USD59,72 per barel menjadi USD63,02 per barel.
- WTI (Nymex) naik sebesar USD3,06 per barel dari USD54,01 per barel menjadi USD57,07 per barel.
- Basket OPEC naik sebesar USD3,02 per barel dari USD59,88 per barel menjadi USD62,90 per barel.
- Brent (ICE) naik sebesar USD3,08 per barel dari USD59,63 per barel menjadi USD62,71 per barel.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif