Pertamina Diyakini tak Sulit Mengelola Holding Migas Jika PGN Bergabung

Husen Miftahudin 14 Desember 2017 18:57 WIB
pertaminaholding migas
Pertamina Diyakini tak Sulit Mengelola <i>Holding</i> Migas Jika PGN Bergabung
Ilustrasi gedung Pertamina. (FOTO: Antara/Andika Wahyu)
Jakarta: Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Elia Massa Manik yakin pihaknya tak akan kesulitan mengelola holding migas bila PT Perusahaan Gas Negara (PGN) ikut bergabung. Sebab keikutsertaan PGN ke tubuh holding migas tak memberi kontribusi besar terhadap keuangan perusahaan.

"Tahun ini kami menargetkan laba bersih Pertamina bisa di angka USD2,3 miliar sampai USD2,4 miliar. Jika PGN kedepannya bergabung, (saya pikir) tidak akan membantu banyak karena perusahaan ini sangat kecil," ujar Elia di Jakarta, Kamis, 14 Desember 2017.

Rencana holding migas membuat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno meminta Pertamina merombak Direktorat Gas Bumi. Jika holding migas direalisasikan, maka fungsi penugasan dan bisnis gas bumi Pertamina akan diserahkan ke PGN karena sudah lebih dulu memiliki bisnis utama di sektor hilir gas bumi.


"Saya akan menempatkan sekelas 1 VP (Vice Presiden) untuk mengelola (holding migas) jika (PGN) bergabung. Kita akan berubah soalnya," tutur Elia.

Deputi Bidang Usaha Energi Logistik Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN Edwin Hidayat Abdullah menyebut bahwa PGN akan menjadi perpanjangan tangan Pertamina dalam kegiatan bisnis.

PGN akan melaksanakan kegiatan bisnis midstream dan downstream gas, termasuk transmisi dan distribusi gas alam. PGN sebagai anak holding Pertamina diharapkan membuat holding migas memiliki struktur neraca keuangan yang lebih kuat, sehingga memperlancar tugas Pertamina sebagai BUMN energi untuk mewujudkan upaya pemerintah dalam program ketahanan energi.

Namun, skema pembentukan holding migas dikritisi Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri dia menyarankan agar rencana akuisisi PGN oleh Pertamina ditinjau ulang, sebab kebijakan tersebut dikhawatirkan membawa dampak negatif terhadap bisnis migas Tanah Air.

"Saya enggak bilang enggak perlu, tapi ada cara yang lebih cocok untuk setiap industri. Ada ruang untuk meninjau kembali," kata Faisal dalam Outlook Ketahanan Energi untuk Mendukung Pertumbuhan Industri Nasional 2018 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu, 13 Desember 2017.

Menurutnya, skema holding kurang cocok bagi industri migas karena akan membebani perusahaan yang sudah sehat untuk menampung perusahaan lainnya. Terlebih Pertamina sebagai induk holding punya proyek yang kompleks.

"Maka Pertamina disehatkan saja, jangan yang sudah sehat malah masuk ke yang tidak sehat," pungkasnya.



(AHL)