Pencapaian ini merupakan momen yang sangat membanggakan karena untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir, tepatnya sejak tahun 2011, pertumbuhan sektor industri kembali berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini menandakan resiliensi dan peran vital manufaktur sebagai mesin utama penggerak ekonomi Indonesia.
Dari Bahan Mentah ke Produk Bernilai Tambah
Tidak hanya dari sisi pertumbuhan, kualitas ekonomi Indonesia juga semakin menguat. Pada tahun 2025, nilai ekspor dari sektor industri manufaktur memberikan kontribusi luar biasa, yakni sebesar 85% dari total nilai ekspor nasional.Angka ini membuktikan bahwa struktur ekonomi Indonesia telah bergeser secara signifikan. Indonesia kini tidak lagi hanya bergantung pada ekspor bahan mentah, melainkan telah bertransformasi menjadi eksportir barang olahan yang memiliki nilai tambah tinggi di pasar global.
Net Zero Emission 2050
Sejalan dengan tren global, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mempertegas komitmennya dalam menangani perubahan iklim. Emmy Suryandari, selaku Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian, menyampaikan bahwa sektor industri manufaktur ditargetkan mencapai Zero Emisi pada tahun 2050, sepuluh tahun lebih awal dari target nasional 2060."Komitmen kami di sektor industri sangat jelas: mencapai Net Zero Emission pada tahun 2050. Langkah dekarbonisasi ini adalah respon strategis terhadap permintaan pasar global yang kini lebih menghargai green product. Melalui optimalisasi EBT dan kebijakan standar industri hijau, kita memastikan bahwa produk Indonesia tidak hanya unggul secara kualitas, tapi juga ramah terhadap iklim,” ujar Emmy.
Langkah ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sebuah strategi yang didorong oleh pasar (market-driven). Meningkatnya permintaan global terhadap green product yang dihasilkan dari green process menjadikan dekarbonisasi sebagai sebuah keharusan agar industri nasional tetap kompetitif.
PLTS Atap dan Penguatan Industri Solar Nasional Salah satu pilar utama dalam proyek dekarbonisasi ini adalah optimalisasi Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya melalui pemasangan PLTS Atap. Teknologi ini menjadi solusi relevan untuk mengubah energi sinar matahari secara langsung menjadi listrik untuk kebutuhan industri.
Dukungan terhadap transisi energi ini pun diperkuat dengan kesiapan infrastruktur dalam negeri. Saat ini, Indonesia telah memiliki 34 pabrikan modul surya di dalam negeri, kapasitas produksi tahunan mencapai 10.944 MWp, serta tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) modul surya yang sudah mencapai angka 40% hingga 55%.
Dukungan Pemerintah yang Holistik
Kementerian Perindustrian terus memberikan dukungan penuh guna memastikan transisi ini berjalan lancar. Selain aspek kebijakan, pemerintah juga fokus pada penguatan pembiayaan (financing) dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten di bidang industri hijau.Melalui sinergi antara pertumbuhan ekonomi yang positif dan komitmen terhadap lingkungan, sektor industri Indonesia optimis dapat terus menjadi tulang punggung ekonomi yang berkelanjutan di masa depan.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News