Ilustrasi perdagangan di ecommerce. Foto : Medcom.id.
Ilustrasi perdagangan di ecommerce. Foto : Medcom.id.

Penyedia E-Commerce Harus Waspadai Penjualan Produk Palsu

Ekonomi Hari Konsumen Nasional e-commerce Ekonomi Digital pandemi covid-19
Antara • 19 April 2022 14:12
Jakarta: Tren belanja online di Indonesia mulai dikenal sejak 1999, namun tumbuh sangat masif sejak pandemi covid-19 di awal 2020. Masyarakat diimbau melakukan aktivitas ekonomi belanja dengan memanfaatkan teknologi digital. Tak hanya konsumen, banyak pelaku usaha yang juga baru mencoba perannya sebagai pedagang di industri digital, terutama platform e-commerce.
 
Dengan demikian, perlu adanya edukasi dan sosialisasi terkait semua tahapan belanja dan berjualan online. Bersamaan dengan Hari Konsumen Nasional (Harkonas) yang jatuh pada 20 April 2022. Penting bagi semua pihak untuk menjalankan perannya sehingga bisa memberikan layanan yang memuaskan konsumen sesuai dengan hak mereka.
 
Ada jutaan merchant baru yang akhirnya membuka toko online di platform e-commerce yang sangat mungkin masih minim pengetahuan terkait menjalankan usaha dengan memanfaatkan teknologi digital. Yang kini juga sedang marak disorot adalah peredaran produk palsu. Platform dinilai memiliki peran penting untuk memastikan produk yang dipasarkan para merchants-nya adalah produk dari produsen aslinya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Bima Laga mengakui, pelaku industri e-commerce masih harus gencar melakukan edukasi yang terkait pemaparan deskripsi produk yang sesuai dengan kondisi riilnya.
 
"Salah satu penyebabnya adalah banyaknya reseller dan dropshipper yang bisa jadi belum menguasai product knowledge sehingga kurang tepat menuliskan deskripsi sehingga terjadi salah paham usai transaksi. Selain jaminan kualitas produk, cara melayani konsumen tanpa bertatap muka juga butuh ditingkatkan. Belum lagi terkait keluhan after-sales yang masih seringkali menimbulkan kesalahpahaman antara konsumen dan pedagang," kata Bima dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 19 April 2022.
 
SVP Commercial Analytics Blibli, Restu Kresnadi menyatakan komitmen kurasi produk merupakan hal yang sangat penting.
 
"Kurasi dan sistem monitoring harian yang cermat menjadi kunci terhadap perlindungan hak konsumen untuk bisa mendapatkan produk asli yang sesuai dengan harapan dan juga uang yang mereka bayarkan, bahkan sistem monitoring yang kami terapkan sekaligus melindungi para seller," tegas Restu.
 
Dia memastikan Blibli terus melakukan kurasi berlapis mulai dari penggunaan AI/ML hingga tim kurator untuk memastikan produk yang akan dipasarkan adalah legal, tidak melanggar aturan pemerintah, dan memiliki kualitas dengan keaslian yang bisa dipertanggungjawabkan.
 
Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Veri Anggrijono menyatakan komitmennya beserta jajaran untuk bisa menghadirkan kepastian hukum bagi perlindungan konsumen.
 
"Kami pastikan akan membangun kerja sama yang erat dengan pelaku industri digital, terutama platform e-commerce untuk mewujudkan hal tersebut," kata Veri.
 
Meski tren belanja online terus meningkat, pelaku industri dan pemerintah tidak bisa lengah. Pasalnya, saat ini, perkembangan yang terjadi masih bisa disebut dalam masa transisi dari konvensional ke digital. Masih banyak hal yang perlu dicermati agar cita-cita membangun ekonomi digital Indonesia yang mapan bisa segera terwujud.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif