Ilustrasi jenis aset kripto - - Foto: dok AFP.
Ilustrasi jenis aset kripto - - Foto: dok AFP.

Duh Persediaan Bitcoin Tersisa 2 Juta, Gimana Nih?

Husen Miftahudin • 07 April 2022 17:56
Jakarta: Persediaan mata uang kripto (cryptocurrency) bitcoin terus menipis, sebanyak 19 juta keping bitcoin telah berhasil ditambang dari total maksimum suplai sebesar 21 juta. Dengan begitu, total bitcoin yang bisa ditambang hanya tersisa sekitar dua juta keping.
 
Tidak hanya bitcoin, sebanyak dua juta ethereum (ETH) sudah berhasil di-burn oleh para pengembang (developer) ETH. Burning dua juta token ETH ini bertujuan untuk meningkatkan Ethereum Improvement Proposal atau EIP-1559.
 
CEO Indodax Oscar Darmawan mengatakan, kedua kabar tersebut justru menjadi berita positif bagi pergerakan kripto. Karena dengan begitu pasokan menjadi berkurang sehingga meningkatkan permintaan, walhasil aset kripto akan naik secara jangka panjang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jika pasokan suatu kripto khususnya bitcoin dan ethereum berkurang, justru merupakan kabar yang positif. Bitcoin dan ethereum adalah dua aset kripto yang paling banyak ditransaksikan oleh para investor karena kedua kripto ini lebih populer dibanding kripto lainnya," ucap CEO Indodax Oscar Darmawan dalam keterangan tertulis, Kamis, 7 April 2022.
 
Menurutnya, bitcoin dan ethereum secara teknologi dan proyek lebih matang sehingga permintaan terhadap kedua kripto ini akan tinggi seiring dengan berkurangnya pasokan. Meskipun begitu, Oscar tak memungkiri akan ada penurunan harga ketika market sedang berada di fase jenuh
 
"Tapi itu merupakan sebuah hal yang sudah biasa terjadi di pasar perdagangan kripto," tutur Oscar.
 
Diketahui bitcoin dan ethereum sering dibeli oleh para institusi investor seperti perusahaan besutan Michael Saylor, Micro Strategy yang baru-baru ini memborong bitcoin senilai Rp1,7 triliun lewat anak perusahaannya, MacroStrategy, yang menggunakan pinjaman dari bank kripto asal San Diego, Silvergate dengan jaminan bitcoin senilai USD205 juta.
 
Tidak hanya itu, high demand terhadap kripto khususnya bitcoin dan ethereum juga terjadi karena orang-orang semakin sadar soal teknologi blockchain sehingga banyak negara di dunia yang melonggarkan kebijakan soal kripto sebagai suatu komoditas, alat pembayaran, bahkan devisa negara.
 
"Fungsi kripto pun semakin dibutuhkan karena ekosistemnya, seperti NFT, defi, dan metaverse yang banyak menggunakan jaringan ethereum," terangnya.
 
Terlebih, adanya momen seperti halving day bitcoin selama empat tahun sekali, para penambang akan semakin sulit mendapatkan bitcoin. Faktor ini juga dinilai akan menyebabkan harga bitcoin semakin melambung.
 
"Orang-orang harus memahami jika minat dan permintaan akan suatu barang semakin banyak, suplai barang yang ada pun akan semakin berkurang. Sehingga nantinya harga barang pun akan naik. Hukum pasar ini juga berlaku di pasar perdagangan kripto," pungkas Oscar.
 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif