Memasuki 2026, kompetisi dompet digital di Indonesia tidak lagi sekadar adu promosi.
Memasuki 2026, kompetisi dompet digital di Indonesia tidak lagi sekadar adu promosi.

Persaingan Dompet Digital Beralih ke Integrasi Ekosistem

Arif Wicaksono • 24 Februari 2026 05:57
Jakarta: Memasuki 2026, kompetisi dompet digital di Indonesia tidak lagi sekadar adu promosi. Industri e-wallet kini bergerak menuju fase yang lebih matang, di mana kekuatan utama terletak pada integrasi layanan dalam satu ekosistem aplikasi. Temuan ini mengemuka dalam laporan Digital Wallet Research 2026: User Behavior & Competitive Landscape yang dirilis Ipsos Indonesia.
 
Survei tersebut menunjukkan dompet digital telah menjadi bagian penting dari aktivitas finansial sehari-hari. Pengguna memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan, mulai dari belanja daring (86%), pembelian makanan dan minuman (77%), pembayaran tagihan rutin seperti listrik dan internet (69%), hingga transfer ke rekening bank (68%). Pola ini menegaskan bahwa e-wallet bukan lagi sekadar opsi pembayaran tambahan, melainkan pusat transaksi harian.
 

Di tengah persaingan yang semakin ketat, sejumlah indikator menunjukkan dominasi pada kategori tertentu. Pada aspek top of mind, ShopeePay menempati posisi teratas dengan 41% responden menyebutnya sebagai merek pertama yang terlintas di benak mereka. Posisi berikutnya diisi DANA (26%), GoPay (23%), dan OVO (8%).
 
Dari sisi intensitas penggunaan dalam tiga bulan terakhir, ShopeePay juga mencatat angka tertinggi dengan 91% responden mengaku menggunakannya. Rata-rata frekuensi transaksi mencapai 23 kali per bulan, menunjukkan tingkat keterlibatan pengguna yang cukup tinggi.

Menurut Executive Director Ipsos Indonesia, Andi Sukma, lanskap persaingan kini mengalami pergeseran signifikan. Ia menilai bahwa faktor pengenalan merek bukan lagi satu-satunya penentu keberhasilan. Yang lebih penting adalah kemampuan platform untuk hadir di berbagai titik kebutuhan finansial secara terhubung dan konsisten.
 
Meski arah industri berubah, promosi tetap menjadi daya tarik utama bagi pengguna. Survei menunjukkan bahwa bebas biaya administrasi (79%), cashback (71%), dan diskon (66%) merupakan insentif yang paling diminati.
 
Namun, daya saing tidak lagi bertumpu pada insentif harga semata. Integrasi dengan ekosistem digital menjadi pembeda utama. Dalam transaksi online, ShopeePay disebut paling sering digunakan (68%), jauh melampaui GoPay (17%), DANA (10%), dan OVO (2%).
 
Di ranah offline, penerapan QRIS turut memperluas penggunaan dompet digital. Untuk pembayaran pulsa dan tagihan, ShopeePay kembali memimpin dengan 53%. Pada transaksi makanan dan minuman, angkanya mencapai 58%, sementara untuk belanja di supermarket dan minimarket tercatat 56%.
 
Selain promosi dan integrasi layanan, faktor kemudahan penggunaan serta keamanan menjadi pertimbangan utama pengguna. ShopeePay dinilai unggul dalam kemudahan pengisian saldo (51%) dan persepsi keamanan (55%).
 
Ipsos menilai bahwa kepercayaan pengguna kini menjadi elemen kunci dalam membangun loyalitas jangka panjang. Promo dapat menarik pengguna baru, tetapi pengalaman yang sederhana, aman, dan stabil akan menentukan keberlanjutan penggunaan.
 
Andi menegaskan bahwa daya tarik jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh insentif, melainkan oleh kemampuan platform menciptakan pengalaman finansial yang terintegrasi dan nyaman.

Generasi Z Dorong Pertumbuhan Transaksi Digital

Riset ini juga menyoroti peran Generasi Z sebagai pendorong utama adopsi pembayaran digital.
Bagi kelompok ini, faktor kepraktisan (57%), bebas biaya admin (49%), serta fleksibilitas penggunaan di berbagai merchant (48%) menjadi alasan utama dalam memilih layanan.
 
Di segmen top-up game, ShopeePay mencatatkan angka tertinggi dengan 46%, diikuti DANA (28%), GoPay (19%), dan OVO (4%). Dari sisi kemudahan proses pengisian saldo, ShopeePay juga memperoleh skor 54%.
 
Ipsos menyimpulkan bahwa Generasi Z tidak lagi memandang dompet digital hanya sebagai alat pembayaran, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup digital yang cepat, praktis, dan terhubung. Platform yang mampu menggabungkan kebutuhan belanja, hiburan, dan transaksi dalam satu sistem diperkirakan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam persaingan jangka panjang.
 
Secara keseluruhan, pasar pembayaran digital Indonesia kini memasuki tahap yang lebih dewasa. Kompetisi tidak lagi berfokus pada fitur dasar, melainkan pada kemampuan menghadirkan relevansi, integrasi, dan nilai nyata dalam kehidupan sehari-hari pengguna.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan