Ilustrasi penipuan digital. Foto: Medcom,id.
Ilustrasi penipuan digital. Foto: Medcom,id.

Ekonomi Digital Kian Rawan Scam, Kerugian Tembus Rp9,1 Triliun

Arif Wicaksono • 13 Mei 2026 08:04
Ringkasnya gini..
  • Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total kerugian akibat kejahatan siber telah mencapai Rp9,1 triliun dalam periode November 2024 hingga Januari 2026.
  • Besarnya ancaman tersebut terlihat dari tingginya laporan masyarakat yang masuk setiap hari. Rata-rata terdapat sekitar 1.000 aduan terkait penipuan digital yang diterima setiap harinya.
Jakarta: Ancaman penipuan digital di Indonesia semakin serius seiring pesatnya perkembangan ekonomi digital. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total kerugian akibat kejahatan siber telah mencapai Rp9,1 triliun dalam periode November 2024 hingga Januari 2026.
 
Besarnya ancaman tersebut terlihat dari tingginya laporan masyarakat yang masuk setiap hari. Rata-rata terdapat sekitar 1.000 aduan terkait penipuan digital yang diterima setiap harinya.
 
Baca juga:  Belajar dari kasus Crowde, OJK Perlu Perkuat Alarm Penipuan Online lewat Pinjol

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Edwin Hidayat Abdullah, menilai kondisi ini membutuhkan kerja sama lintas sektor untuk memperkuat sistem keamanan digital nasional. Ia mengungkapkan sekitar 65% masyarakat Indonesia setidaknya pernah menjadi target scam sekali dalam sepekan.
 
Menurutnya, ancaman siber saat ini sudah berkembang jauh lebih kompleks sehingga tidak bisa lagi ditangani dengan pendekatan konvensional semata.

“Skala ancaman ini membutuhkan strategi yang terintegrasi, mulai dari penguatan regulasi, kolaborasi antarindustri, hingga pemanfaatan teknologi keamanan yang lebih canggih,” ujarnya dalam keterangannya.
 
Modus kejahatan digital kini juga semakin sofisticatif. Pelaku memanfaatkan injection attack untuk menyisipkan gambar palsu ke sistem verifikasi, menggunakan emulator farm guna menjalankan ribuan identitas palsu secara bersamaan, hingga melakukan GPS spoofing untuk memalsukan lokasi pengguna agar lolos dari pemeriksaan biometrik.
 
Ekonomi Digital Kian Rawan Scam, Kerugian Tembus Rp9,1 Triliun
Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, mengatakan sistem keamanan digital harus beradaptasi menghadapi pola serangan baru tersebut. Menurutnya, proses verifikasi tidak cukup hanya memeriksa identitas pengguna, tetapi juga harus mampu membaca kondisi perangkat dan jaringan secara bersamaan.
 
Ia menjelaskan, solusi ID FraudShield dikembangkan untuk memberikan visibilitas lebih luas terhadap ancaman yang selama ini sulit dideteksi oleh sistem keamanan standar. Teknologi ini mengandalkan pendekatan multilayer security dengan sejumlah fitur utama, seperti biometric liveness untuk mendeteksi deepfake, spoofing, hingga rekaman video palsu. Selain itu, terdapat device intelligence yang mampu mengidentifikasi emulator, perangkat yang sudah dimodifikasi secara ilegal, serta aplikasi kloning.
 
Sistem tersebut juga diperkuat behavioral analytics yang menganalisis pola perilaku pengguna selama proses verifikasi berlangsung secara real-time. Sementara fitur network and location berfungsi mendeteksi penggunaan VPN, proxy, hingga manipulasi lokasi melalui GPS spoofing.
Tidak hanya itu, ID FraudShield turut dilengkapi rule engine untuk mengukur tingkat risiko fraud secara langsung serta ID Graph atau network intelligence yang dapat menghubungkan data perangkat, biometrik, dan dokumen lintas sesi guna mendeteksi aktivitas sindikat kejahatan digital, termasuk synthetic identity dan mule account.
 
Solusi ini ditujukan untuk membantu sektor keuangan seperti perbankan, multifinance, pinjaman digital, asuransi, hingga layanan pembayaran dalam memperkuat mitigasi risiko fraud tanpa mengganggu pengalaman pengguna maupun kepatuhan terhadap regulasi. Niki menegaskan pengembangan teknologi tersebut berangkat dari temuan di lapangan terkait lemahnya sistem liveness konvensional dalam menghadapi serangan digital modern.
 
“Melalui teknologi ini, kami ingin membantu industri mendeteksi ancaman fraud yang sebelumnya sulit dikenali oleh sistem keamanan tradisional,” tutupnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan