Kecerdasan buatan. Foto: ilustrasi.
Kecerdasan buatan. Foto: ilustrasi.

Microsoft Gaspol Latih AI demi Bikin Ekonomi Digital Makin Inklusif

Arif Wicaksono • 26 Mei 2026 07:18
Jakarta: Pengembangan ekonomi digital Indonesia dinilai semakin bergantung pada kesiapan talenta dalam menguasai teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Karena itu, penguatan literasi digital dan keterampilan AI kini menjadi bagian penting dalam memperluas partisipasi masyarakat di era transformasi digital.
 
Microsoft Indonesia bersama Alunjiva Indonesia terus mendorong pengembangan ekosistem AI inklusif melalui program EQUAL yang menyasar perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
 
Hingga April 2026, program tersebut telah menjangkau lebih dari 112 ribu peserta di berbagai wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 66.574 peserta berasal dari kelompok penyandang disabilitas, sementara sisanya merupakan perempuan dan pemuda.

Program ini menjadi bagian dari inisiatif elevAIte Indonesia yang sebelumnya diluncurkan Microsoft bersama Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia untuk memperkuat kapasitas satu juta talenta digital Indonesia di bidang AI. Perkembangan AI kini tidak hanya memengaruhi sektor teknologi, tetapi juga mulai mengubah pola kerja, produktivitas, hingga model bisnis di berbagai industri.
 
President Director Microsoft Indonesia, Dharma Simorangkir, mengatakan teknologi AI berpotensi menjadi penggerak produktivitas sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Menurut dia, pemanfaatan teknologi seperti Microsoft Copilot dapat membantu masyarakat meningkatkan keterampilan digital dan memperluas partisipasi dalam ekonomi digital nasional.
 
“Kami mendorong pemanfaatan teknologi seperti Microsoft Copilot untuk membantu lebih banyak masyarakat, termasuk perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas—mengembangkan keterampilan baru, meningkatkan produktivitas, dan berpartisipasi aktif dalam ekonomi digital,” tegas dia. 
 
Microsoft percaya teknologi AI harus dapat diakses dan dimanfaatkan oleh lebih banyak masyarakat secara inklusif. Melalui kolaborasi bersama berbagai mitra, salah satunya Alunjiva Indonesia, kami mendorong penguatan keterampilan AI dan pemanfaatan Microsoft Copilot agar perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas dapat lebih siap menghadapi transformasi digital dan membuka peluang baru di masa depan,
 
Program EQUAL dikembangkan dengan pendekatan inklusif melalui pelatihan AI berbasis komunitas, penyediaan materi pembelajaran yang lebih aksesibel, hingga pelibatan fasilitator penyandang disabilitas.
 
Kolaborasi tersebut melibatkan komunitas lokal, organisasi masyarakat sipil, institusi pendidikan, pemerintah daerah, hingga jaringan fasilitator di berbagai wilayah Indonesia. Founder Alunjiva Indonesia, Nicky Clara, mengatakan masih banyak kelompok rentan yang menghadapi tantangan dalam mengakses teknologi digital.
 
Oleh karena itu, menurut dia, penguatan literasi AI perlu dibangun dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
 
“AI harus menjadi alat pemberdayaan yang mampu membuka akses dan menciptakan peluang baru bagi semua orang,” ujarnya.
 
Sebagai penutup rangkaian program EQUAL, Microsoft dan Alunjiva Indonesia menggelar EQUAL Convening Summit bertajuk Merayakan Perjalanan, Membangun Masa Depan AI yang Inklusif di Gedung Komisi Nasional Disabilitas, Jakarta.
 
Acara tersebut menghadirkan sejumlah tokoh lintas sektor, di antaranya Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Viada Hafid, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, serta perwakilan komunitas dan pelaku industri teknologi.
 
Diskusi dalam forum tersebut menyoroti pentingnya regulasi AI yang inklusif untuk memastikan transformasi ekonomi digital dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai penguasaan AI dapat membantu pelaku UMKM naik kelas sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas.
 
Wakil Ketua MPR RI  Lestari Moerdijat juga menyampaikan teknologi AI sejatinya bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk meluaskan ruang kesempatan. 
 
“Penguasaan AI menjadi jembatan krusial: mempercepat langkah UMKM lokal agar naik kelas, sekaligus mendobrak keterbatasan bagi kawan-kawan penyandang disabilitas untuk mandiri dan berdaya,” tuturnya. 
 
Pembina Setara Berdaya Group Ridha D. M. Wirakusumah  menyampaikan pengembangan ekosistem AI yang inklusif membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, sektor swasta, komunitas, dan masyarakat sipil. 
 
Sementara itu, Nicky Clara selaku founder Alunjiva Indonesia menegaskan bahwa pendekatan berbasis komunitas menjadi salah satu kunci penting dalam membangun ekosistem pembelajaran AI yang inklusif dan berkelanjutan.
 
Ke depan, program EQUAL akan terus dikembangkan melalui penguatan komunitas lokal, pelatihan berkelanjutan, hingga pembentukan local champion di berbagai daerah agar dampak ekonomi digital berbasis AI dapat tumbuh lebih luas dan berkelanjutan di Indonesia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan