Memasuki kuartal II-2026, pasar diperkirakan tetap berada pada level yang solid dengan estimasi sekitar USD 2 miliar. Kondisi ini mencerminkan stabilisasi setelah lonjakan permintaan pada periode Ramadan di kuartal sebelumnya.
| Baca juga: Transaksi E-Commerce UMKM di Wilayah Terdampak Bencana Meningkat |
Data internal Sirclo juga memperkuat tren tersebut. Sepanjang April hingga Mei 2026, kategori FMCG di platform e-commerce telah mencapai sekitar 85% dari total volume transaksi pada kuartal I-2026. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan masih cukup kuat, didorong oleh perubahan perilaku konsumen yang semakin bergantung pada kanal digital untuk kebutuhan sehari-hari.
“Perkembangan belanja FMCG secara online bukan hanya soal peningkatan volume transaksi, tetapi juga perubahan ekspektasi konsumen. Brand kini dituntut tidak sekadar hadir di marketplace, melainkan mampu menghadirkan pengalaman yang terintegrasi di semua kanal,” ujar Vice President of Account Management Sirclo Januarius Gunawan dalam keteranganya.
Pertumbuhan FMCG di ekosistem digital tidak terlepas dari meningkatnya penetrasi internet dan kebiasaan belanja online di Indonesia. Berdasarkan data APJII, tingkat penetrasi internet nasional pada 2025 telah mencapai 80,66% dari total populasi. Sementara itu, survei Jakpat menunjukkan 92% responden sudah melakukan transaksi online pada paruh kedua 2025.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa aktivitas digital kini menjadi bagian penting dalam perjalanan belanja konsumen. Bahkan, pengalaman belanja online semakin mendekati kenyamanan belanja fisik, terutama dengan hadirnya layanan pengiriman cepat seperti same-day dan instant delivery.
Namun di sisi lain, konsumen kini tidak hanya mencari produk, tetapi juga menuntut pengalaman yang konsisten, cepat, dan tanpa hambatan di setiap titik interaksi.
Omnichannel Jadi Kebutuhan, Bukan Pilihan
Dalam situasi tersebut, pendekatan omnichannel commerce menjadi semakin penting. Konsep ini menekankan integrasi seluruh kanal penjualan dalam satu sistem yang saling terhubung, mulai dari pengelolaan stok, pemrosesan pesanan, hingga distribusi.Dengan dukungan teknologi, seluruh proses tersebut dapat berjalan secara real-time sehingga brand dapat memberikan pengalaman yang lebih konsisten kepada pelanggan. Tidak hanya itu, integrasi ini juga berkontribusi pada peningkatan loyalitas dan pembelian berulang.
Sirclo sebagai penyedia solusi teknologi membantu brand dalam menyederhanakan kompleksitas operasional omnichannel melalui sistem yang terintegrasi. Pendekatan ini memungkinkan pelaku FMCG memperluas jangkauan pasar digital sekaligus menjaga efisiensi operasional.
Salah satu contoh implementasinya terlihat pada kerja sama Sirclo dengan Kopi Luwak White Koffie, salah satu pemain utama kopi instan white coffee di Indonesia.
Menurut Ronny Chandra, General Manager PT Javaprima Abadi, produk dengan frekuensi pembelian tinggi seperti kopi instan membutuhkan standar layanan digital yang konsisten agar tetap kompetitif.
“Kolaborasi dengan Sirclo membantu kami mengelola operasional e-commerce secara end-to-end. Seiring waktu, kerja sama ini juga berkembang untuk mendukung ekspansi pasar di luar Jabodetabek,” ujarnya.
Melalui solusi Multi-Origin, Kopi Luwak White Koffie kini memperluas jaringan distribusi ke tiga titik utama, yaitu Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya. Strategi ini memungkinkan pemrosesan pesanan lebih dekat dengan konsumen, sehingga waktu pengiriman lebih cepat dan biaya logistik lebih efisien.
Sejak implementasi pada Mei 2025, volume pesanan yang diproses melalui jaringan distribusi tersebut dilaporkan meningkat hingga 15 kali lipat pada Mei 2026.
“Perubahan perilaku konsumen menuntut brand untuk lebih adaptif. Karena itu, kami terus mendorong inovasi agar dapat membantu pelaku usaha menghadapi kompleksitas kanal digital yang semakin berkembang,” tutup Januarius.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News