Jakarta: Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan otomatisasi mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja. Kondisi ini mendorong dunia pendidikan untuk tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menyiapkan siswa dengan kemampuan yang relevan dengan perubahan pasar kerja.
Kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, beradaptasi, serta mempelajari keterampilan baru dinilai semakin penting di tengah perubahan struktur pekerjaan yang diproyeksikan berlangsung hingga 2030.
| Baca juga: AI Bisa Bikin Inflasi Naik? Ini Penjelasan Bank Sentral Swiss |
Kepala ACG School Jakarta, Myles D’Airelle, mengatakan institusi pendidikan memiliki peran penting dalam mempersiapkan siswa menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada ujian atau persiapan masuk perguruan tinggi.
“Siswa pergi ke sekolah untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Tugas kami sebagai pendidik juga untuk memastikan mereka mampu berpikir mandiri, berani mempertanyakan gagasan, mencari solusi, dan memahami tanggung jawab di balik setiap keputusan,” ujar Myles, belum lama ini.
Menurut Myles, kemampuan beradaptasi perlu dibangun bersamaan dengan fondasi akademik yang kuat. Siswa tidak hanya perlu memahami materi pembelajaran, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan persoalan di dunia nyata.
Kebutuhan terhadap keterampilan tersebut semakin relevan seiring perubahan struktur pasar tenaga kerja global. Berdasarkan Future of Jobs Report 2025, sekitar 22% pekerjaan diperkirakan mengalami perubahan struktural hingga 2030.
Laporan tersebut memperkirakan sekitar 170 juta pekerjaan baru akan tercipta dalam periode tersebut. Di sisi lain, sekitar 92 juta pekerjaan diproyeksikan terdampak hingga bergeser atau tergantikan, sehingga secara bersih terdapat tambahan sekitar 78 juta pekerjaan.
Perubahan juga terjadi pada keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Sekitar 39% keterampilan inti pekerja diperkirakan berubah hingga 2030. Profesi yang tumbuh paling cepat diproyeksikan banyak berasal dari sektor teknologi, industri hijau, serta layanan kesehatan dan sosial.
Sebaliknya, pekerjaan yang bersifat rutin dan administratif berpotensi mengalami tekanan lebih besar akibat penggunaan AI dan otomatisasi. Kondisi tersebut membuat kemampuan manusia yang sulit digantikan teknologi, seperti berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi, menjadi semakin penting.
Perubahan kebutuhan tenaga kerja tersebut menjadi tantangan bagi sektor pendidikan Indonesia. Siswa yang saat ini masih berada di bangku sekolah akan memasuki pasar kerja dalam beberapa tahun mendatang dan diproyeksikan mengambil peran di berbagai sektor, mulai dari profesional, ilmuwan, pengusaha, hingga pemimpin.
Koordinator Diploma IB ACG School Jakarta, Kieran Pascoe, mengatakan pendekatan pembelajaran juga perlu memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mengambil tanggung jawab terhadap proses belajarnya.
“IB menantang siswa untuk berpikir kritis, mengajukan pertanyaan berdasarkan rasa ingin tahu, merefleksikannya, dan menganalisis jawaban. Proses ini membantu siswa menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu memecahkan masalah, baik untuk pendidikan selanjutnya maupun dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Kieran.
ACG School Jakarta sendiri menerapkan International Baccalaureate Primary Years Programme (IB PYP), International Baccalaureate Diploma Programme (IBDP), serta kualifikasi Cambridge International. Sekolah yang berdiri sejak 2004 tersebut menyediakan pendidikan mulai dari prasekolah hingga prauniversitas.
Selain pembelajaran akademik, siswa juga mendapatkan kesempatan mengembangkan keterampilan nonakademik melalui 32 kegiatan ekstrakurikuler, acara komunitas, serta berbagai program yang mendorong eksplorasi minat, pengambilan inisiatif, kerja sama, dan kontribusi kepada komunitas.
Bagi dunia pendidikan, perubahan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan talenta tidak lagi hanya diukur dari capaian akademik. Kemampuan untuk belajar secara mandiri, menguasai keterampilan baru, beradaptasi dengan teknologi, dan memecahkan masalah menjadi bagian penting dari kompetensi tenaga kerja masa depan.
Menjelang Indonesia Emas 2045, tantangan tersebut semakin relevan. Generasi yang saat ini masih berada di bangku sekolah akan menjadi bagian dari angkatan kerja yang menghadapi perkembangan AI dan otomatisasi secara lebih luas. Karena itu, penguatan keterampilan adaptif sejak pendidikan dasar hingga menengah menjadi salah satu faktor penting dalam menyiapkan talenta Indonesia menghadapi perubahan ekonomi dan dunia kerja.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda