Kecerdasan buatan. Foto: Unsplash.
Kecerdasan buatan. Foto: Unsplash.

AI Bisa Bikin Inflasi Naik? Ini Penjelasan Bank Sentral Swiss

Arif Wicaksono • 24 Agustus 2026 18:59

Zurich: Kecerdasan buatan (AI) ternyata bukan cuma soal bikin kerjaan lebih cepat atau menghasilkan konten dalam hitungan detik. Teknologi ini juga berpotensi ikut mendorong inflasi naik, setidaknya dalam jangka pendek.

Hal tersebut disampaikan anggota dewan gubernur Swiss National Bank (SNB), Petra Tschudin, dalam wawancara dengan surat kabar Finanz und Wirtschaft yang diterbitkan Jumat, 21 Agustus.

Baca juga: Ini Cara AI Dorong Perubahan Masyarakat dan Mendorong Ekonomi Digital 

Menurut Tschudin, dampak AI terhadap harga masih belum bisa dipastikan arahnya. Teknologi ini bisa membuat harga naik, tapi dalam jangka panjang juga berpotensi membuat harga lebih murah. Salah satu alasannya adalah boom investasi AI.

Ketika dana dan investasi mengalir deras ke sektor AI, sektor ekonomi lain bisa ikut terkena dampaknya. Alokasi investasi yang berubah dapat memicu penyesuaian dan bahkan menciptakan kelangkaan di sejumlah sektor. Contohnya, chip.

Permintaan chip yang makin tinggi karena perkembangan AI bisa membuat pasokan menjadi terbatas. Kalau barangnya langka sementara permintaannya tinggi, harga tentu berpotensi ikut naik.

"Kelangkaan bisa terjadi, misalnya pada cip, yang menyebabkan harga naik," ujar Tschudin.

Artinya, dalam jangka pendek hingga menengah, AI justru bisa memberikan tekanan inflasi.

Tapi AI juga Bisa Bikin Harga Lebih Murah

Di sisi lain, AI punya efek yang berlawanan dalam jangka panjang. Banyak pihak meyakini teknologi ini berpotensi meningkatkan produktivitas. Pekerjaan bisa dilakukan lebih cepat, biaya produksi bisa ditekan, dan pada akhirnya harga barang atau jasa berpeluang menjadi lebih murah.

Namun, menurut Tschudin, ada satu catatan penting.Penurunan harga harus terjadi secara berulang dan konsisten agar benar-benar menghasilkan efek deflasi dalam perhitungan inflasi tahunan.

"Apakah hal itu realistis?" kata Tschudin.

Ia menilai peningkatan produktivitas sebenarnya bukan fenomena baru. Karena itu, peningkatan produktivitas akibat AI tidak otomatis membuat ekonomi masuk ke kondisi deflasi struktural.

Pandangan tersebut sejalan dengan penelitian yang diterbitkan staf Bank of England pada Kamis. Kepala ekonom baru Dana Moneter Internasional (IMF), Silvana Tenreyro, juga memperingatkan bahwa kenaikan produktivitas akibat AI belum tentu otomatis membuat inflasi turun.

SNB Masih Wait and See

Untuk saat ini, SNB belum melihat inflasi bergerak jauh dari targetnya.Dalam proyeksi terbaru, bank sentral Swiss memperkirakan inflasi tetap berada dalam kisaran target 0% hingga 2% hingga kuartal I 2029.

Suku bunga kebijakan SNB sendiri saat ini berada di level 0%. Meski begitu, jangan langsung menganggap suku bunga Swiss bakal stay di 0% sampai 2029.

Tschudin menegaskan, proyeksi tersebut merupakan perkiraan inflasi dengan asumsi suku bunga tidak berubah. Itu bukan berarti SNB sudah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level tersebut selama tiga tahun.

"Jika ada informasi baru yang relevan mengenai inflasi, kami akan menyesuaikan kebijakan moneter," ujarnya.

Dengan kata lain, SNB masih wait and see. Kalau inflasi berubah karena AI atau faktor lainnya, kebijakan suku bunga juga bisa ikut berubah. SNB sendiri tidak mempublikasikan proyeksi suku bunga karena arah kebijakan moneter tetap bergantung pada perkembangan ekonomi dan inflasi ke depan


 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan