Namun, semakin luas penggunaan AI, semakin banyak juga kontroversi yang muncul. Kemampuan teknologi yang terus berkembang memunculkan persoalan tentang akurasi informasi, bias, hak kreator terhadap karyanya, hingga dampaknya terhadap lingkungan.
Dilansir dari laman BBC pada Selasa, 15 September 2026, salah satu persoalan AI adalah kemampuannya menghasilkan informasi yang keliru. Sistem AI generatif bahkan dapat mengalami halusinasi, yaitu menyampaikan sesuatu yang salah seolah-olah merupakan fakta, termasuk membuat sumber yang sebenarnya tidak akurat.
Selain itu, data yang digunakan untuk melatih sejumlah sistem AI dapat mencerminkan bias sosial yang sudah ada. Bias seperti seksisme dan rasisme berpotensi ikut terbawa ke dalam hasil yang diberikan oleh sistem tersebut.
Perdebatan Karya Kreator dan Isu Lingkungan
Kontroversi lain muncul dari para penulis, musisi, dan seniman yang mempertanyakan bagaimana karya mereka digunakan untuk melatih sistem AI. Sejumlah kreator menilai karya yang digunakan tanpa persetujuan atau kompensasi dapat mengancam mata pencaharian mereka.Pada Oktober 2024, ribuan kreator, termasuk Bjorn Ulvaeus dari Abba, penulis Ian Rankin dan Joanne Harris, serta aktris Julianne Moore, menandatangani pernyataan yang menyebut AI sebagai ancaman besar dan tidak adil terhadap mata pencaharian mereka.
Tak hanya itu, perkembangan AI juga memberikan dampak buruk kepada lingkungan. Pembuatan chip komputer canggih yang dibutuhkan sistem AI membutuhkan energi dan air, sementara meningkatnya permintaan layanan AI generatif ikut mendorong pertumbuhan pusat data.
Sejumlah perusahaan teknologi berupaya mengurangi atau menggunakan kembali air yang dibutuhkan pusat data. Namun, para ahli dan aktivis tetap mengkhawatirkan perkembangan AI dapat memperburuk persoalan ketersediaan air. (Wisa Irena Br Sitepu)