Ilustrasi. (Sumber: Kaspersky)
Ilustrasi. (Sumber: Kaspersky)

Kerentanan AI Jadi Ancaman Baru Bisnis di Asia Pasifik

Mohamad Mamduh • 13 September 2026 18:20
Ringkasnya gini..
  • Survei internal Kaspersky menunjukkan 13% perusahaan di Asia Pasifik mengidentifikasi kerentanan AI sebagai salah satu ancaman utama keamanan siber.
  • India mencatat kekhawatiran kerentanan AI tertinggi sebesar 20%, sementara Indonesia berada di angka 10% dan Tiongkok menjadi yang terendah dengan 7%.
  • Kaspersky merekomendasikan penerapan solusi keamanan komprehensif seperti Kaspersky Next dan tata kelola AI yang ketat untuk mencegah kebocoran data.
Jakarta: Survei internal yang dilakukan oleh Kaspersky mengungkapkan bahwa sebanyak 13 persen perusahaan di kawasan Asia Pasifik mengidentifikasi kerentanan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai salah satu ancaman utama keamanan siber. Risiko ini kini menjadi pertimbangan penting bagi keberlanjutan bisnis organisasi di wilayah tersebut.
  Tingkat kekhawatiran terhadap kerentanan AI terbilang bervariasi di Asia Pasifik. India mencatat porsi tertinggi dengan 20 persen organisasi yang mengkhawatirkan risiko AI, disusul Malaysia (15 persen), Thailand dan Vietnam (masing-masing 13 persen), Indonesia (10 percent), serta Tiongkok (7 persen).

Sebanyak 30 persen responden di seluruh Asia Pasifik mengindikasikan bahwa risiko utama bersumber dari penggunaan AI eksternal. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan serta pengaturan solusi AI pihak ketiga secara cermat demi memitigasi potensi kebocoran data dan pelanggaran keamanan.

Di sisi lain, banyak organisasi dinilai belum sepenuhnya mengendalikan cara karyawan memanfaatkan teknologi pintar tersebut. Hasil survei menunjukkan 60 persen perusahaan di Asia Pasifik mengizinkan penggunaan alat AI pihak ketiga dengan batasan tertentu, seperti larangan mengunggah nama atau dokumen internal perusahaan.
 

Laju Integrasi AI dan Tantangan Shadow AI

Kendati dibayangi berbagai risiko, laju integrasi AI di kawasan Asia Pasifik tetap berjalan pesat. Sebanyak 85 persen perusahaan dilaporkan secara aktif mendiskusikan, menguji coba, hingga menerapkan alat AI internal berbasis large language model (LLM). Sementara itu, 10 persen perusahaan lainnya telah mengintegrasikan teknologi ini secara penuh ke dalam alur kerja mereka.

Group Manager Kaspersky AI Technology Research Centre, Vladislav Tushkanov, menjelaskan bahwa adopsi AI memang mempercepat proses bisnis dan mengurangi beban kerja rutin, tetapi di saat bersamaan meningkatkan risiko baru seperti kerentanan AI dan shadow AI.

"Strategi perlindungan paling efektif adalah memanfaatkan solusi keamanan siber komprehensif seperti Kaspersky Next. Pendekatan ini dapat mengurangi biaya secara signifikan melalui pencegahan pelanggaran keamanan, penyederhanaan manajemen, serta penanganan insiden yang lebih cepat," ujar Tushkanov.

Sementara itu, Managing Director Kaspersky Asia Pasifik, Adrian Hia, menambahkan bahwa lanskap bisnis kini telah bergeser dari sekadar mempertanyakan peran AI menjadi merumuskan tata kelola yang bertanggung jawab.

"Transformasi digital tidak lagi diukur dari seberapa cepat teknologi baru diadopsi, melainkan dari kemampuan perusahaan memahami risiko dan membangun kepercayaan. Bisnis yang mengintegrasikan keamanan siber ke dalam strategi AI sejak awal akan memiliki fondasi lebih kuat untuk berinovasi," kata Adrian.
 

Rekomendasi Perlindungan Ancaman AI

Untuk melindungi perusahaan dari potensi ancaman berbasis kecerdasan buatan, Kaspersky memberikan sejumlah rekomendasi strategis:

Implementasi Solusi End-to-End: Menggunakan lini produk Kaspersky Next untuk menghadirkan perlindungan real-time, visibilitas ancaman, serta kemampuan investigasi berbasis Endpoint Detection and Response (EDR) dan Extended Detection and Response (XDR).

Pemanfaatan Threat Intelligence: Membekali tim keamanan siber dengan visibilitas mendalam melalui Kaspersky Threat Intelligence terbaru guna mengidentifikasi risiko siber secara tepat waktu di sepanjang siklus manajemen insiden.

Penyelarasan Tata Kelola dengan Ahli: Mengeksplorasi fitur AI canggih dan melakukan konsultasi dengan pakar untuk menyusun panduan keamanan yang disesuaikan dengan lingkungan operasional spesifik perusahaan.
 

(Nur Aldiansyah Amirulloh)



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA