CEO ICEx Group Kai Pang menegaskan kehadiran ICEx merupakan bagian dari upaya Indonesia membangun infrastruktur aset kripto berkelas dunia.
“Ini bukan sekadar pencapaian domestik, ini adalah pernyataan bahwa Indonesia sedang membangun infrastruktur kripto berkelas dunia dengan caranya sendiri,” kata Kai Pang dalam Grand Launching ICEx di Jakarta, Kamis 2 April 2026.
ICEx dibangun dengan dukungan pendanaan strategis sekitar Rp1 triliun dari sejumlah pemegang saham dan pelaku industri kripto nasional. Mulai dari PT Aethera Inovasi Digital, PT Finora Integrasi Nusantara, PT Regnum Sukses Utama, PT Volaris Visi Karya, PT Vita Nova Global, hingga platform kripto seperti FLOQ, Mobee, OSL Indonesia, Reku, Samuel Kripto, Tokocrypto, Triv, Upbit Indonesia, dan Nanovest.
Sebagai SRO, ICEx bertugas melakukan pelaporan dan pencatatan transaksi perdagangan, pemantauan integritas pasar, pengawasan kepatuhan anggota bursa, hingga koordinasi kebijakan dengan OJK.
Mengoperasikan 3 Entitas Terintegrasi
ICEx Group mengoperasikan tiga entitas yang saling terintegrasi, yakni ICEx sebagai bursa, Crypto Asset Clearing International (CACI) sebagai lembaga kliring, serta International Crypto Custodian (ICC) sebagai kustodian.ICEx juga diproyeksikan menjadi wadah pengembangan produk kripto teregulasi, termasuk aset ter-tokenisasi atau real world assets (RWA).
“Kami berharap dapat menjadi agen inovasi terutama di produk-produk sintetik seperti derivatif tokenisasi RWA di Indonesia," ujar CFO ICEx Group Rizky Indraprasto.
Rizky menambahkan secara tata kelola pihaknya tidak akan mengompromikan tata kelola maupun integritas perusahaan dalam mengejar target menjadi bursa dan kliring kripto terbesar di Indonesia berdasarkan pangsa pasar. Ia juga menegaskan ICEx memiliki tata kelola yang kuat.
“Kami memiliki governance yang kuat dengan mindset to safe dan juga openness. 11 anggota bursa kami sangat berikut serta dalam membuahkan tata tertib,” tambahnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News