Baca juga: Infrastruktur Open Source Dorong Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia |
Perubahan tersebut dikenal sebagai discovery commerce, yakni model perdagangan digital yang memanfaatkan konten untuk mempertemukan produk dengan konsumen. Model ini dinilai membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar melalui kreativitas dan konten digital.
President Director Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia, Stephanie Susilo, mengatakan perkembangan tersebut memberikan ruang baru bagi pelaku usaha lokal, termasuk UMKM di Solo dan Jawa Tengah.
"Usaha terkecil apapun, kini punya peluang untuk dikenalkan, dikenal, dan dipilih oleh konsumen melalui pembuatan konten," ujar Stephanie dalam kegiatan di Solo Senin 21 September 2026.
Menurut Stephanie, produk kini tidak hanya ditemukan melalui fitur pencarian. Konten video pendek dan sesi live juga dapat menjadi sarana bagi konsumen untuk menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhannya.
"Penemuan produk tidak lagi hanya dimulai dari search atau pencarian, tetapi juga bisa terjadi melalui video atau live session yang inspiratif, autentik, dan kreatif," jelasnya.
Ia mengatakan perkembangan discovery commerce juga tercermin dari peningkatan pesanan yang berasal dari konten digital. Berdasarkan data internal yang disampaikan Stephanie, pesanan yang dihasilkan melalui sesi live meningkat 59%, sedangkan pesanan melalui video pendek tumbuh 135%.
Sementara itu, program afiliasi kreator disebut dapat membantu pelaku usaha meningkatkan pesanan hingga 170%. Menurut Stephanie, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kreativitas dapat menjadi salah satu modal bagi UMKM untuk bersaing di ekosistem perdagangan digital.
"Discovery commerce yang inklusif memungkinkan seluruh penjual, bahkan dengan sumber daya terbatas, dapat memenangkan persaingan melalui kreativitas," katanya.
Potensi Ekonomi Digital
Stephanie menyebut potensi tersebut semakin relevan dengan proyeksi ekonomi digital Indonesia. Ia menyampaikan nilai ekonomi digital nasional diproyeksikan mencapai USD180 miliar hingga USD340 miliar pada 2030.Pertumbuhan tersebut didorong oleh sejumlah sektor, termasuk e-commerce, layanan keuangan digital, serta model bisnis baru seperti perdagangan berbasis penemuan konten.
Menurut Stephanie, tantangan digitalisasi UMKM saat ini mulai bergeser. Jika sebelumnya fokus utama adalah mendorong pelaku usaha masuk ke platform digital, kini perhatian perlu diarahkan pada peningkatan produktivitas, kapasitas, dan daya saing.
"Fokus kita semua kini bergeser, dari mendorong UMKM untuk masuk ke ranah digital menjadi membantu meningkatkan produktivitas dan daya saing melalui penguatan kapasitas serta perluasan pasar," ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Tokopedia dan TikTok Shop mengembangkan berbagai program untuk membantu pelaku usaha lokal memperoleh akses pasar sekaligus meningkatkan kemampuan digital.
Salah satunya melalui ekosistem Beli Lokal yang telah berjalan sejak 2023. Program tersebut menjadi wadah kolaborasi untuk mendorong pertumbuhan pelaku usaha lokal dan memperluas visibilitas produk dalam ekosistem perdagangan digital.
Di Solo, peran UMKM juga cukup besar dalam perekonomian daerah. Stephanie menyebut UMKM berkontribusi hampir 57% terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Kota Surakarta dan menyerap sekitar 36% tenaga kerja.
"Ini menunjukkan pentingnya UMKM dalam segala kepentingan ekonomi, baik di tingkat lokal maupun nasional," katanya.
Program Beli Lokal juga mencakup sejumlah inisiatif pemberdayaan UMKM. Salah satunya adalah program yang berfokus pada batik dan disebut telah memberdayakan lebih dari 550 perajin batik di Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan melalui digitalisasi, promosi, serta peningkatan kapasitas.
Selain itu, terdapat program One City, One Product yang membantu memperkenalkan produk khas dari berbagai daerah, termasuk produk batik Solo.
Stephanie mengatakan penjual di Solo yang bergabung dalam ekosistem Beli Lokal mencatat rata-rata peningkatan pesanan sebesar 57%.
Dorong UMKM Kuasai Konten Digital
Selain akses pasar, peningkatan kapasitas menjadi bagian penting dalam mendorong UMKM memanfaatkan perdagangan digital.Tokopedia dan TikTok Shop menjalankan program Jualan Nyaman sejak 2024. Stephanie menyebut program tersebut telah memberdayakan lebih dari 4.800 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk perempuan dan kelompok lainnya.
Program tersebut antara lain memberikan pembekalan mengenai kesiapan bisnis, legalitas usaha, serta kemampuan memanfaatkan teknologi digital.
Salah satu aspek yang ditekankan adalah kepemilikan Nomor Induk Berusaha (NIB). Menurut Stephanie, NIB dapat membantu pelaku usaha memperoleh akses pembiayaan, dukungan usaha, serta berbagai program pemerintah.
Namun, ia menyebut baru sekitar 27% dari sekitar 56 juta usaha mikro di Indonesia yang telah memiliki NIB. Selain aspek legalitas, pelaku usaha juga dibekali kemampuan membuat konten, membangun merek, dan memanfaatkan affiliate marketing.
"Selain daftar usaha, pelaku usaha juga perlu memanfaatkan kreativitas dan teknologi untuk menjangkau pasar yang lebih luas," ujar Stephanie.
Dalam kegiatan di Solo, Tokopedia dan TikTok Shop bersama Kementerian Perdagangan juga membekali lebih dari 200 pelaku usaha dari Solo dan sekitarnya agar lebih siap menghadapi perkembangan perdagangan digital.
Stephanie mengatakan kemampuan membuat konten menjadi semakin penting karena perilaku konsumen dalam menemukan produk ikut berubah."Karena itu, kemampuan seperti membuat konten, membangun brand dan memanfaatkan affiliate marketing ini menjadi hal yang penting," pungkasnya.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa persaingan UMKM di ruang digital tidak lagi hanya ditentukan oleh keberadaan produk di platform. Kemampuan pelaku usaha membuat produk lebih mudah ditemukan melalui konten juga menjadi bagian dari strategi untuk menjangkau konsumen.
Era discovery commerce pun membuka ruang bagi UMKM untuk memanfaatkan kreativitas sebagai salah satu cara memperluas pasar di tengah pertumbuhan ekonomi digital.