Pemanfaatan open source tidak lagi hanya dipandang sebagai alternatif perangkat lunak berlisensi. Teknologi tersebut mulai dikaitkan dengan kebutuhan perusahaan untuk mengendalikan biaya investasi teknologi informasi, mempercepat pengembangan layanan digital, serta membangun infrastruktur yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
| Baca juga: Ini Cara AI Dorong Perubahan Masyarakat dan Mendorong Ekonomi Digital |
Perkembangan ekonomi digital membuat kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi semakin besar. Perusahaan tidak hanya membutuhkan kapasitas untuk menjalankan aplikasi bisnis, tetapi juga infrastruktur yang mampu mendukung cloud computing, pengolahan data dalam jumlah besar, hingga pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dalam konteks tersebut, efisiensi menjadi salah satu pertimbangan penting. Investasi pada infrastruktur digital harus mampu memberikan manfaat terhadap produktivitas perusahaan tanpa menciptakan beban biaya yang terlalu besar dalam jangka panjang.
Leo Sun, Senior Sales Manager GCR & ASEAN Canonical, mengatakan organisasi mempertimbangkan infrastruktur open source antara lain karena faktor biaya, kecepatan pengembangan, serta fleksibilitas untuk melakukan penyesuaian terhadap sistem.
“Dalam mengadopsi open source, organisasi sering menghadapi berbagai tantangan. Isu terbesar adalah vulnerability and patch management, disusul kurangnya visibilitas terhadap dependensi sistem,” ujar Sun dalam keteranganya.
Menurutnya, efisiensi biaya tidak dapat dipisahkan dari bagaimana perusahaan mengelola infrastruktur digital sepanjang siklus hidupnya. Karena itu, keputusan menggunakan teknologi open source perlu mempertimbangkan aspek keamanan, pemeliharaan, serta dukungan teknis.
Kebutuhan tersebut semakin relevan seiring meningkatnya pemanfaatan data dan AI dalam aktivitas bisnis. Infrastruktur digital menjadi salah satu fondasi yang menentukan kemampuan perusahaan mengembangkan layanan baru, mengotomatisasi proses bisnis, serta memanfaatkan data untuk pengambilan keputusan.
Sikander Singh, Telco Field Engineering Manager APAC Canonical, memaparkan pendekatan Canonical berbasis Ubuntu untuk mendukung kebutuhan data dan AI. Pembahasan tersebut mencakup biaya lisensi sistem operasi konvensional, kecepatan pengembangan pipeline machine learning, serta kebutuhan keamanan pada berbagai lapisan data stack.
Bagi perusahaan Indonesia, pilihan infrastruktur juga berkaitan dengan kebutuhan menjalankan sistem pada berbagai lingkungan. Ryo Ardian, Executive Vice President Sivali Cloud Technology, menjelaskan teknologi tersebut dapat diterapkan dalam lingkungan multi-cloud, on-premises, hingga edge.
“Di Indonesia, sektor dengan regulasi ketat seperti perbankan, keuangan, serta minyak dan gas membutuhkan kepastian bahwa data strategis mereka dikelola di data center yang memenuhi standar keamanan nasional maupun internasional,” ujar Ryo.
Kombinasi antara fleksibilitas, efisiensi biaya, dan kemampuan mengelola data menjadi semakin penting dalam perkembangan ekonomi digital Indonesia. Perusahaan membutuhkan infrastruktur yang memungkinkan mereka meningkatkan kapasitas teknologi tanpa harus selalu meningkatkan biaya dengan pola yang sama.
Namun, efisiensi teknologi tidak semata-mata ditentukan oleh rendahnya biaya lisensi. Organisasi juga harus menghitung biaya pemeliharaan, kebutuhan tenaga ahli, keamanan, pengelolaan patch, serta dukungan teknis dalam jangka panjang.
Founder dan CEO Sivali Cloud Technology Wong Sui Jan menjelaskan bahwa pertimbangan komersial utama dalam pemilihan teknologi adalah efisiensi investasi TI dalam jangka panjang tanpa mengorbankan keamanan dan kualitas yang dibutuhkan perusahaan.
Dengan pendekatan tersebut, open source dapat menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengoptimalkan investasi digital. Infrastruktur yang lebih fleksibel dapat membantu perusahaan mengalokasikan sumber daya ke pengembangan produk, layanan, dan inovasi yang memiliki dampak langsung terhadap bisnis.
Pada akhirnya, perkembangan ekonomi digital membutuhkan lebih dari sekadar konektivitas. Perusahaan juga membutuhkan fondasi teknologi yang mampu mendukung pertumbuhan data, cloud, dan AI secara berkelanjutan. Karena itu, pemilihan infrastruktur menjadi bagian penting dalam menentukan seberapa efisien perusahaan Indonesia dapat bertransformasi dan bersaing di ekonomi digital.