MDI Ventures. Foto: Istimewa.
MDI Ventures. Foto: Istimewa.

MDI Ventures Petakan Jalur Ekonomi Digital Inklusif dengan AI, Investasi Berdampak, dan Ketahanan Siber di Indonesia

Arif Wicaksono • 25 Mei 2026 11:07
Jakarta: MDI Ventures, perusahaan modal ventura korporasi bagian dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, merilis white paper terbaru bertajuk "Catalyzing Digital Resilience and Sustainable Growth: Advancing Inclusive Innovation and AI-Driven Impact Across Indonesia's Digital Economy." 
 
Publikasi ini memetakan bagaimana modal ventura, artificial intelligence (AI), dan infrastruktur digital dapat dipadukan untuk membuka fase pertumbuhan berikutnya bagi 65 juta UMKM Indonesia, yang berkontribusi 60,5% terhadap PDB dan menyerap 96,5% tenaga kerja nasional.
 
Baca juga: A Multi-Dimensional Leadership Perspective: Menavigasi Pergeseran dan Ketidakpastian di Era Baru    

White paper hadir di tengah momentum penting bagi ekonomi digital Indonesia, dengan GMV yang diproyeksikan akan bertumbuh mencapai USD180 hingga USD340 miliar pada 2030 berdasarkan e-Conomy SEA 2025. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, kesenjangan pembiayaan UMKM masih menjadi tantangan besar, dengan kebutuhan pendanaan yang jauh melampaui akses yang tersedia saat ini.
 
Fokus white paper ini terletak pada bagaimana investasi dapat menghubungkan inklusi keuangan, kesiapan AI, ketahanan siber, hingga menciptakan dampak terukur. Bagi MDI Ventures, tantangannya bukan hanya memperluas adopsi digital, tetapi memastikan portofolio investasinya mampu mendukung digitalisasi UMKM berjalan lebih relevan dan dapat dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

“White paper terbaru kami merefleksikan peran MDI Ventures sebagai enabler yang menghubungkan inovasi dengan kebutuhan nyata di masyarakat. Hal ini tercermin dari berbagai portofolio kami di bidang AI, cybersecurity, hingga digital infrastructure, yang menghadirkan solusi konkret untuk menjawab berbagai tantangan. Melalui pendekatan tersebut, kami melihat bahwa teknologi tidak hanya mampu menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga menghasilkan dampak sosial dan lingkungan yang terukur,” ungkap Direktur MDI Ventures, Roby Roediyanto.
 
Sejalan dengan hal tersebut, white paper ini juga menjadi upaya MDI Ventures untuk memperjelas titik temu antara inovasi, kebutuhan pasar, dan arah kebijakan bagi founder, investor, entitas Telkom Group hingga ekosistem BUMN, serta regulator.
 
Salah satu temuan utama white paper ini adalah bahwa impact capital menjadi kunci dalam menjawab kebutuhan pembiayaan pembangunan di Indonesia.  Secara global, impact investing telah mencapai USD1,571 triliun AUM dengan pertumbuhan 21% per tahun sejak 2019, sementara Indonesia masih membutuhkan sekitar USD1,7 triliun untuk menutup kesenjangan pembiayaan SDGs hingga 2030. Dalam konteks ini, corporate venture capital berperan strategis dalam menghubungkan modal dengan sektor-sektor berdampak tinggi.
 
Di sisi pembiayaan, AI menjadi solusi untuk memperkecil kesenjangan kredit. Pada 2023, hanya 2,2% pelaku usaha mikro dan kecil yang mengakses pinjaman bank, menunjukkan terbatasnya akses pembiayaan formal. Pendekatan seperti credit scoring berbasis data alternatif, yang dimanfaatkan oleh Ascore.ai (Amartha), membuka peluang untuk memperluas akses kredit bagi segmen yang selama ini belum terlayani. MDI Ventures memandang ketahanan siber sebagai elemen penting dalam memperkuat fondasi ekonomi digital Indonesia. 
 
Di tengah meningkatnya risiko keamanan digital, dengan 56,1 juta data terekspos dan 5.780 insiden defacement sepanjang 2024, kebutuhan terhadap sistem perlindungan siber yang lebih proaktif menjadi semakin krusial. Melalui CYFIRMA, portofolio keamanan siber berbasis AI asal Singapura, MDI Ventures mendukung pengembangan kapabilitas threat intelligence dan early warning system bagi enterprise serta institusi strategis, yang pada akhirnya turut memperkuat keamanan dan kepercayaan dalam ekosistem digital yang menopang pertumbuhan UMKM dan ekonomi digital nasional.
 
Dampak tersebut tercermin dari kinerja portofolio MDI Ventures dalam mendorong inklusi digital. Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp 28 triliun kepada 2,8 juta UMKM, Qoala mencatat 445 juta polis mikroasuransi, dan Privy melayani lebih dari 57 juta pengguna terverifikasi. Bersama portofolio lain di AI dan keamanan siber, capaian ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat memperluas akses, meningkatkan kepercayaan, dan memperkuat fondasi ekonomi digital yang inklusif.
 
Secara bersama-sama, portofolio tersebut menunjukkan empat pondasi yang diidentifikasi white paper sebagai kunci ekonomi digital inklusif: infrastruktur kredit berbasis data alternatif, perlindungan finansial tertanam, identitas digital dan kepercayaan, serta enterprise tooling berbasis AI yang terhubung dengan jaringan distribusi Telkom Group dan ekosistem BUMN.
 
"Kerangka dual-lens kami menempatkan setiap investasi pada dua kriteria utama: apakah bisnisnya layak secara komersial, dan apakah dampaknya dapat diukur sesuai tujuan Sustainable Development Goals," jelas Alvin Evander, VP Strategy & Sustainability MDI Ventures. "Dengan pendekatan tersebut, kami berupaya menjaga akuntabilitas portofolio, sekaligus menunjukkan kepada Investor dan mitra korporasi bahwa dampak dan imbal hasil dapat tumbuh bersama," pungkasnya.
 
Kedepannya, MDI Ventures akan terus berfokus pada perkembangan sektor esensial seperti AI, keamanan siber, dan blockchain, seiring dengan arah strategis perusahaan yang semakin menekankan investasi berbasis dampak yang terukur. White paper ini diharapkan menjadi rujukan bagi co-investor, mitra BUMN, regulator, dan founder dalam membangun ekonomi digital Indonesia yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan