Perubahan ini membuat kemampuan teknis tertentu menjadi semakin mudah dan murah dilakukan. CTO DANA Indonesia, Norman Sasono, dalam AI@Work Lab Ideafest 2026 pada Minggu, 6 September 2026 mengungkapkan bahwa pengkodean di DANA lebih dari 90 persen dikerjakan AI, tetapi DANA tetap mempertahankan para engineers mereka.
“More than 90% of our code in our organization is generated by AI, not human anymore. But we still have all the engineers with us still today,” jelas Norman.
Norman juga mengatakan bahwa biaya untuk membuat kode semakin murah karena AI mampu membantu manusia menghasilkan software dengan lebih cepat. Namun, kondisi tersebut membuat kemampuan seperti berpikir, pengetahuan, rasa ingin tahu, dan kemampuan memecahkan masalah menjadi semakin penting.
“Coding is getting cheaper, but thinking is getting more expensive,” ujarnya.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa AI tidak serta-merta membuat tenaga manusia kehilangan nilai. Norman mengatakan penggunaan AI membantu meningkatkan produktivitas, tetapi pekerjaan engineer tidak hilang karena coding hanyalah satu bagian dari keseluruhan proses software engineering.
“Coding is just one part of software engineering,” ujar Norman.
Norman juga menambahkan ketika AI mengambil alih pekerjaan coding, pekerjaan lain seperti quality assurance, pengujian, kebutuhan produk, hingga pemecahan masalah justru menjadi lebih penting.
Perubahan ini membuat perusahaan dapat mengalihkan waktu dan tenaga manusia dari pekerjaan yang bersifat rutin ke pekerjaan yang membutuhkan pertimbangan lebih kompleks. Dengan kata lain, AI bukan hanya memangkas waktu pengerjaan, tetapi juga mengubah bagian mana dari sebuah pekerjaan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Skill yang Di Era AI: Problem Solving dan Pemahaman
Dalam proses pengembangan software, pekerjaan tidak berhenti setelah kode berhasil dibuat karena masih ada tahap perencanaan, desain, pengujian, validasi, hingga memastikan produk sesuai kebutuhan bisnis. Norman menjelaskan bahwa pembuatan kode secara fisik semakin menyusut sebagai bagian dari proses tersebut.
“The AI result will only be as good as the questions you ask to the AI,” katanya.
Orang yang hanya memiliki kemampuan menjalankan tugas teknis berpotensi kehilangan keunggulan ketika tugas tersebut bisa dilakukan AI. Sebaliknya, orang yang mampu memahami persoalan, menentukan tujuan, mengevaluasi hasil, dan memberikan arahan yang tepat justru memiliki nilai lebih besar.
Dalam diskusi tersebut juga dingatkan bahwa kemampuan menggunakan AI saja belum cukup karena tetap dibutuhkan manusia yang memahami konteks dan mampu menilai apakah hasil yang diberikan teknologi benar-benar sesuai kebutuhan. (Wisa Irena Br Sitepu)