Tahun 2018 menjadi titik balik dalam hidup Putri. Ia memutuskan berhenti bekerja karena ingin fokus mengasuh anaknya yang masih kecil. Keputusan itu bukan tanpa risiko. Artinya, ia harus mencari cara lain untuk tetap menghasilkan pendapatan tanpa meninggalkan rumah.
| Baca juga: BUKA Group Siapkan Langkah Strategis untuk Hiburan Digital |
Dengan modal terbatas, Putri mulai membuka warung sembako di depan rumahnya. Rak-rak sederhana diisi kebutuhan pokok seperti beras, kopi, dan mi instan. Pelanggannya adalah tetangga sekitar. Keuntungan yang didapat kala itu belum besar, sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan harian.
Namun Putri menyadari satu hal: jika ingin bertahan, ia tak bisa berjalan sendiri.Langkah berikutnya adalah bergabung sebagai Juragan di Mitra Bukalapak. Keputusan ini menjadi momentum penting dalam perjalanan usahanya.
Pada awalnya, Putri menghadapi berbagai tantangan. Modal saldo terbatas dan kemampuan menggunakan teknologi digital yang masih minim sempat membuatnya ragu. Namun ia tidak berhenti di situ. Ia memanfaatkan berbagai materi edukasi dan pendampingan yang tersedia untuk memahami transaksi digital, pengelolaan stok, hingga cara menarik pelanggan.
Perlahan, usahanya berkembang. Warungnya tidak lagi sekadar tempat belanja kebutuhan pokok, tetapi juga melayani pembayaran digital dan berbagai layanan lainnya. Pendapatannya pun meningkat signifikan.
Jika dulu keuntungan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, kini Putri bisa meraih laba sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan. Hasil itu digunakan untuk membiayai sekolah kedua anaknya, membantu orang tua, bahkan membeli kendaraan bermotor untuk menunjang aktivitas keluarga.
Dari Penerima Manfaat Menjadi Penggerak
Kesuksesan Putri tidak berhenti pada peningkatan ekonomi keluarga. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan komunitas Mitra.Pada 2025, Putri terlibat dalam program KOLAK (Kompak Bareng Mitra Bukalapak), sebuah inisiatif berbagi di bulan Ramadan. Melalui program tersebut, ia membagikan takjil gratis kepada pelanggan dan warga sekitar.
Baginya, kegiatan itu bukan sekadar aksi sosial, melainkan bentuk rasa syukur atas perjalanan usahanya. Momen berbagi tersebut sekaligus mempererat hubungan antara warung dan komunitas di sekitarnya.
Tahun 2026, program KOLAK kembali digelar dengan cakupan yang lebih luas. Ribuan paket takjil ditargetkan untuk disalurkan oleh para Mitra di berbagai daerah. Semangatnya tetap sama: menghadirkan manfaat nyata melalui jaringan warung rakyat.
Kini, Putri memiliki tujuan yang lebih besar. Ia ingin memastikan kedua anaknya bisa menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Dengan penghasilan yang lebih stabil, ia mulai membiasakan diri menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan pendidikan.
Kebiasaan mengelola keuangan secara disiplin menjadi salah satu perubahan penting dalam hidupnya. Ia tidak lagi hanya berpikir tentang hari ini, tetapi juga tentang lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Menurut Putri, membangun usaha membutuhkan lebih dari sekadar modal uang. Dibutuhkan keberanian memulai, kemauan belajar, dan konsistensi. Tantangan pasti datang, tetapi optimisme dan doa menjadi penopang agar tetap melangkah.
Perjalanan Putri menunjukkan bahwa transformasi bisa dimulai dari ruang paling kecil bahkan dari warung sederhana di depan rumah. Dengan akses teknologi, kemauan berkembang, dan dukungan komunitas, usaha mikro pun mampu menjadi kendaraan untuk menjemput masa depan yang lebih baik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News