Studi terbaru yang dilakukan oleh YouGov bersama Visa mengungkap bahwa belanja online kini telah menjadi bagian dari rutinitas masyarakat Indonesia. Dalam laporan State of Digital Commerce in Asia Pacific 2025, sebanyak 62% konsumen tercatat bertransaksi daring dua hingga tiga kali setiap bulan menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dibandingkan tahun sebelumnya.
Seiring meningkatnya intensitas belanja, perilaku konsumen pun ikut berubah. Mereka tidak lagi sekadar mencari kemudahan, tetapi mulai menuntut pengalaman berbelanja yang lebih aman, transparan, dan memberikan nilai tambah yang jelas.
Di kawasan Asia Pasifik, Indonesia memiliki karakteristik unik, terutama dalam hal metode pembayaran. Sebanyak 78% konsumen di Tanah Air menggunakan akun dengan saldo tersimpanangka tertinggi di kawasan. Tingginya adopsi ini mendorong ekspektasi yang lebih besar terhadap keamanan transaksi digital.
Kesadaran terhadap teknologi keamanan seperti tokenisasi, yang menyamarkan data kartu menjadi kode terenkripsi juga mulai meningkat. Hal ini membuka peluang bagi pengalaman pembayaran yang lebih cepat, seperti sistem “one click”, tanpa mengorbankan aspek keamanan.
Meski faktor harga dan promo seperti gratis ongkir masih menjadi daya tarik utama, pertimbangan konsumen kini semakin luas. Kecepatan pengiriman, kemudahan proses pengembalian dana, serta reputasi penjual menjadi elemen penting dalam keputusan pembelian.
Peran AI Makin Dominan dalam Proses Belanja
Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence turut mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan platform e-commerce. Saat ini, sekitar 82% konsumen memanfaatkan AI untuk berbagai kebutuhan, mulai dari membandingkan harga hingga melacak pesanan.Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat hingga mendekati 95% dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, adopsi AI belum sepenuhnya mulus. Meskipun mulai terbuka terhadap konsep pembelian otomatis berbasis AI, sebagian konsumen masih bersikap hati-hati. Kekhawatiran utama berkisar pada transparansi biaya dan kepastian sebelum transaksi dilakukan.
Fenomena ini juga terlihat di tingkat regional. Di Asia Pasifik, sebagian besar konsumen menggunakan AI untuk mencari informasi, tetapi masih ragu untuk berbagi data pribadi tanpa jaminan perlindungan yang kuat. Di beberapa negara berkembang seperti India dan Vietnam, tingkat penerimaan terhadap transaksi berbasis AI relatif lebih tinggi, sementara Indonesia menunjukkan tren yang serupa namun dengan fokus kuat pada aspek kepercayaan.
Infrastruktur Aman Jadi Fondasi Ekosistem
Country Manager Visa Indonesia, Vira Widiyasari, menilai antusiasme terhadap teknologi harus diimbangi dengan perlindungan yang memadai. Menurutnya, konsumen Indonesia menginginkan pengalaman berbelanja yang praktis, namun tetap membutuhkan jaminan keamanan dan transparansi dalam setiap transaksi. Hal ini menjadi semakin relevan seiring dorongan pemerintah terhadap digitalisasi ekonomi.Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Visa mengembangkan berbagai solusi berbasis keamanan, termasuk teknologi tokenisasi, fitur pembayaran seperti Click to Pay, serta sistem autentikasi yang dirancang untuk meningkatkan kepercayaan pengguna.
Selain itu, perusahaan juga mulai membangun fondasi bagi ekosistem belanja berbasis AI melalui inisiatif seperti Visa Intelligent Commerce dan Trusted Agent Protocol. Inisiatif ini bertujuan menciptakan konektivitas yang aman antara konsumen, sistem AI, dan pelaku usaha.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News