Kecerdasan buatan. Foto: Pexels.
Kecerdasan buatan. Foto: Pexels.

Survei: Adopsi AI Mendongkrak Produktivitas Terutama bagi Gen Z Indonesia

Arif Wicaksono • 24 Februari 2026 13:23
Ringkasnya gini..
  • Hasil PwC’s Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 menunjukkan pengaruh AI makin terasa, dan rasa optimis terhadap manfaatnya jauh lebih kuat dibandingkan kekhawatiran yang ada.
  • Secara global, 54% pekerja mengatakan mereka telah menggunakan AI dalam pekerjaan selama 12 bulan terakhir.
Jakarta: Para pekerja mulai angkat suara soal perdebatan besar tentang bagaimana AI memengaruhi produktivitas, pertumbuhan bisnis, dan dunia kerja. 
 
Hasil PwC’s Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 menunjukkan pengaruh AI makin terasa, dan rasa optimis terhadap manfaatnya jauh lebih kuat dibandingkan kekhawatiran yang ada.
 
Survei yang melibatkan hampir 50.000 pekerja di seluruh dunia, termasuk 812 responden dari Indonesia, di 48 negara dan 28 sektor menunjukkan bahwa mereka yang memakai GenAI setiap hari jauh lebih sering merasakan manfaat nyata dibandingkan pengguna yang jarang memakainya. 
 

Secara global, 92% pengguna harian merasakan produktivitas yang meningkat, 58% merasa lebih aman dengan pekerjaan mereka, dan 52% sudah melihat kenaikan gaji. Di Indonesia, angkanya bahkan lebih tinggi: 96% untuk produktivitas, 82% untuk rasa aman dalam pekerjaan, dan 72% untuk peningkatan gaji.

Sementara itu, pengguna AI yang jarang memakai teknologi ini secara global hanya mencatat 58% peningkatan produktivitas, 36% rasa aman dalam pekerjaan, dan 32% kenaikan gaji. 
 
Di Indonesia, kelompok pengguna yang jarang ini tetap berada di atas rata-rata global, dengan 75% untuk produktivitas, 63% untuk rasa aman dalam pekerjaan, dan 52% untuk gaji. Survei ini menunjukkan bahwa di Indonesia, dampak positif penggunaan GenAI sehari-hari terhadap produktivitas, keamanan pekerjaan, dan kompensasi terasa lebih kuat dibandingkan dengan tren global.
 
Pete Brown, PwC Global Workforce Leader, mengatakan pekerja yang memakai AI setiap hari sudah mulai merasakan manfaatnya, mereka jadi lebih produktif, merasa lebih aman dengan pekerjaannya, dan mendapatkan penghasilan yang lebih baik. 
 
“Tapi untuk benar-benar memperluas manfaat ini, perusahaan perlu melakukan lebih dari sekadar memberi pelatihan. Cara kerja perlu diperbarui, dan bagaimana manusia bekerja bersama mesin juga harus didefinisikan ulang. Keberhasilan langkah ini akan menentukan apakah GenAI bisa menjadi motor pertumbuhan dan inklusi, atau malah menjadi peluang yang hilang,”
 
Secara global, 54% pekerja mengatakan mereka telah menggunakan AI dalam pekerjaan selama 12 bulan terakhir. Namun, penggunaan rutin masih tergolong rendah, yang menunjukkan bahwa masih ada ruang besar untuk memperluas pemanfaatannya dan mendapatkan manfaat nyata. Hanya 14% responden yang menggunakan generative AI setiap hari, dan lebih sedikit lagi (6%) yang memakai agentic AI secara harian.
 
Di Indonesia, tingkat adopsi keseluruhan lebih tinggi dengan 69% pekerja menyatakan telah menggunakan AI untuk pekerjaannya dalam setahun terakhir. Namun, penggunaan hariannya justru sedikit menurun, dengan hanya 16% pekerja yang memakai generative AI setiap hari dan 8% yang menggunakan agentic AI secara harian.

Masa Depan Dunia Kerja 

Lita Dewi, PwC Consulting Indonesia Workforce Transformation Leader, menambahkan perubahan-perubahan regulasi, teknologi, geopolitik, maupun preferensi pelanggan akan membentuk masa depan dunia kerja. 
 
“Di Indonesia, hampir setengah dari pekerja yang disurvei (49%) memperkirakan perubahan regulasi akan berdampak besar, dan 45% memprediksi transformasi teknologi, bahkan naik menjadi 74% di kalangan pengguna GenAI harian. Ini menunjukkan bahwa mereka yang sudah mengadopsi AI cenderung lebih siap menghadapi perubahan ke depan. Sementara itu, 44% pekerja juga percaya bahwa konflik geopolitik dan perubahan preferensi pelanggan akan mempengaruhi pekerjaan mereka dalam tiga tahun mendatang.” tegas dia. 
 
Walaupun banyak organisasi mulai berinvestasi dalam program peningkatan keterampilan untuk mengikuti perkembangan teknologi baru dan yang terus muncul, hasil survei menunjukkan bahwa upaya dari perusahaan masih belum merata. 
 
Secara global, hanya 51% pekerja non-manajer merasa mereka mendapatkan sumber daya yang cukup untuk belajar dan berkembang, dibandingkan dengan 66% manajer dan 72% eksekutif senior. Di Indonesia, situasinya lebih positif: 64% pekerja non-manajer mengatakan mereka punya akses pada sumber daya pembelajaran yang dibutuhkan, meningkat menjadi 78% di level manajer dan 89% di level eksekutif senior.
 
Perbedaan juga terlihat dalam bagaimana pekerja memandang budaya pembelajaran di tempat kerja. Secara global, 54% pekerja merasa tim mereka melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang, dengan angka yang naik menjadi 65% di sektor teknologi dan turun menjadi 47% di sektor transportasi dan logistik. 
 
Berbeda dengan itu, Indonesia menunjukkan budaya belajar yang lebih kuat: 72% pekerja mengatakan tim mereka memandang kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. 
 
Komitmen ini bahkan lebih tinggi di sektor jasa keuangan, mencapai 88%, sementara sektor energi, utilitas, dan sumber daya berada di 62%. Temuan ini menunjukkan bahwa organisasi di Indonesia cenderung membangun lingkungan belajar yang lebih suportif dibandingkan rata-rata global.

Tekanan finansial 

Tekanan finansial masih menjadi kekhawatiran bagi banyak pekerja. Secara global, 55% tenaga kerja mengatakan mereka sedang mengalami tekanan finansial, naik dari 52% di 2024. Lebih dari sepertiga (35%) merasa kewalahan, dan angkanya meningkat menjadi 42% di kalangan Gen Z. 
 
Kurang dari setengah (43%) menerima kenaikan gaji dalam setahun terakhir, dan hanya 17% yang mendapat promosi. Bahkan minat untuk meminta kenaikan gaji maupun promosi juga menurun dari tahun ke tahun, dari 43% menjadi 37% dan dari 35% menjadi 32%.
 
Di Indonesia, gambaran situasinya sedikit berbeda: 49% pekerja mengatakan mereka mengalami tekanan finansial, turun cukup jauh dari 61% tahun lalu. Sebanyak 25% merasa kewalahan, dan 41% melaporkan kelelahan. 
 
Lebih dari separuh (53%) menerima kenaikan gaji, meski hanya 10% yang mendapatkan promosi. Ambisi karier juga sedikit melunak dengan 32% berencana meminta kenaikan gaji dan 31% ingin mengajukan promosi, sementara 18% mempertimbangkan pindah perusahaan, dan semua angka ini lebih rendah dibandingkan puncaknya di 2024.
 
Survei ini juga menunjukkan bahwa pekerja di Indonesia jauh lebih nyaman menyampaikan pendapat dan ide tentang pekerjaan kepada tim mereka dibandingkan dengan rata-rata global. Sebanyak 76% responden di Indonesia merasa nyaman mengungkapkan pandangan mereka, jauh lebih tinggi dibandingkan angka global yang hanya 62%. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan