Ilustrasi. Foto  : MI.
Ilustrasi. Foto : MI.

Total Aset Bukit Asam Capai Rp25,2 Triliun

Ekonomi ptba
Suci Sedya Utami • 28 Oktober 2019 17:32
Jakarta: PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan total aset perseroan hingga 30 September 2019 mencapai Rp25,2 triliun. Aset tersebut terdiri dari aset tetap 28 persen dan setara kas sebesar 17 persen.
 
Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin menjelaskan untuk kas dan setara kas (di luar deposito dengan jangka waktu di atas tiga bulan) yang dimiliki Perseroan saat ini sebesar Rp4,2 triliun. Jumlah tersebut mengalami penurunan 33 persen per 31 Desember 2018 sebesar Rp6,30 triliun.
 
"Akan tetapi bila termasuk deposit di atas tiga bulan, maka total kas perseroan adalah sebesar Rp7,1 triliun atau naik 13 persen dari perioade yang sama 2018," kata Arviyan di Jakarta, Senin, 28 Oktober 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, hingga kuartal ketiga tahun ini perseroan mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp16,3 triliun. Pendapatan tersebut terdiri dari pendapatan penjualan batu bara domestik sebesar 56 persen dan ekspor sebesar 42 persen dan aktivitas lainnya sebesar dua persen yang terdiri dari penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah, jasa kesehatan rumah sakit dan jasa sewa.
 
Hingga September 2019 PTBA mencatatkan adanya penjualan batu bara menjadi 20,6 juta ton atau naik 10,7 persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Kenaikan penjualan ini ditopang oleh kenaikan produksi batu bara menjadi 21,6 juta ton atau naik 9,6 persen dari periode yang sama di tahun sebelumnya, serta kapasitas angkutan batu bara yang mengalami kenaikan menjadi 17,8 juta ton atau naik 4,7 persen dari periode Januari hingga September 2018.
 
Kenaikan penjualan batu bara ini tidk lepas dari strategi penjualan yang diterapkan oleh Perseroan dengan menyasar ekspor batu bara ke beberapa negara seperti India, Hong Kong Filipina dan sejumlah negara Asia lain, serta menyasar pasar ekspor baru seperti ke Jepang dan Korea Selatan. Tak hanya mendorong penjualan ekspor ke negara-negara Asia, Perseroan juga menerapkan penjualan ekspor batu bara medium to high calorie ke premium market.
 
Selain itu pendapatan usaha juga dipengaruhi oleh harga jual rata-rata batu bara yang turun sebesar 7,8 persen menjadi Rp775.675 per ton dari Rp841.655 per ton di periode sampai degan September 2019 dibandingkan tahun sebelumnya.
 
Penurunan tersebut disebabkan oleh pelemahan harga batu bara indeks Newcastle (GAR 6322 kkal/kg) sebesar 25 persen menjadi rata-rata sampai dengan September 2019 sebesar USD81,3 per ton dari USD108,3 per ton pada periode yang sama tahun lalu.
 
Demikian juga indeks harga batu bara thermal Indonesia (Indonesian Coal Index /ICI) GAR 5000 yang melemah sebesar 21 persen menjadi rata-rata sampai dengan September 2019 sebesar USD50,8 per ton dari USD64,5 per ton pada periode yang sama tahun lalu.
 
Adapun beban pokok penjualan hingga September 2019 tercatat sebesar Rp10,5 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 13 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp9,4 triliun.
 
Dengan komposisi dan kenaikan terbesar terjadi pada biaya angkutan kereta api seiring dengan peningkatan volume angkutan batu bara dan kenaikan biaya jasa penambangan seiring dengan peningkatan produksi dan peningkatan rata-rata stripping ratio sampai dengan September 2019 sebesar 4.6 bcm/ton dari 4.1 bcm/ton pada periode yang sama tahun lalu.
 
Kenaikan stripping ratio ini disebabkan produksi batu bara kalori tinggi > 6100 kkal/kg GAR) sebanyak 1,9 juta ton sampai dengan September 2019.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif