Pemulihan Pasar Finansial Mulai Terlihat
Ilustrasi. (Foto: Antara/Akbar Nugroho).
Jakarta: Laju indeks harga saham gabungan (IHSG) mulai masuk tren positif.

Dalam perdagangan sepekan lalu, indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 3,33 persen ke posisi 5.975,74 poin dari 5.783,31 poin pada akhir pekan sebelumnya.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas Silvano Rumantir melihat pasar mulai pulih bertahap.

"Dua hari ini di pasar ekuitas sudah terlihat aksi foreign net buy walaupun secara year to date masih net sell. Akan tetapi, secara umum dalam dua hari terakhir pemulihan pasar sudah mulai terlihat," ujar Silvano saat paparan outlook di Jakarta, akhir pekan lalu.

Pembatalan pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Korea Utara juga berakibat pada pasar saham di AS menjadi landai sehingga menguntungkan negara berkembang.

Selain itu, keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI 7-day repo rate diapresiasi investor dan menunjukkan kesiapan bank sentral untuk melanjutkan sensitivitasnya terhadap pasar.

"Sinyal sensitivitas dan fleksibilitas terhadap market itu sudah dikonfirmasi," ujarnya.

Kondisi pasar pada semester dua dimulai dari berlanjutnya volatilitas karena kebijakan President AS Donald Trump. Dari domestik akan ada pilkada pada Juni. Harapannya, volatilitas dari antisipasi terhadap pilkada akan mereda di semester kedua.

Dalam pertemuan The Fed pada Juni sudah diekspektasi pasar bahwa AS akan menaikkan Fed fund rate. Kemudian disusul dengan liburan musim panas yang biasanya kegiatan dari investor di AS akan lebih mereda.

"Diharapkan dengan berbagai faktor ini, market sudah bisa lebih settle di semester ke dua," tandasnya.

Pantau Yield Obligasi AS

Sementara itu, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini masih akan dipengaruhi faktor global.

"Kami mencermati kondisi global seperti AS yang menormalisasi ekonominya dengan menaikkan Fed fund rate. Pertumbuhan ekonomi AS pun membaik. Termasuk perkembangan di Eropa, Tiongkok, dan India," kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Aida S Budiman, dalam sebuah diskusi di Bandung, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Aida melanjutkan, selain memantau penaikan suku bunga The Fed yang dapat menggoyang rupiah, BI juga memperhatikan yield atau imbal hasil obligasi AS.

"Naiknya yield obligasi AS yang diikuti dengan penguatan nilai dolar tersebut membawa dampak terhadap kenaikan yield obligasi negara-negara lain," ujar Aida.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah menambahkan ada beberapa pengaruh risiko geopolitik yang memaksa dolar AS pulang ke negaranya.

"Akan tetapi, faktor di dalam negeri juga ada, seperti kegiatan impor menjelang Lebaran dan repatriasi dividen," ungkap Nanang.

Ke depan, bank sentral senantiasa melakukan stabilisasi kurs secara terukur agar tidak menggerus cadangan devisa. "Likuiditas rupiah pun harus terjaga."

Kemarin, rupiah ditutup pada level 14.103 per dolar AS atau menguat Rp45. (Media Indonesia)

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id