"Masih dalam pembahasan Odira, harga minyak masih turun, ada beberapa hal dan pertimbangan yang harus dibahas masalah akuisisi 75 persen saham. Kita awalnya ingin 90 persen saham," kata Komisaris Independen Ratu Prabu Energi Agus Cahyo Baskoro, ketika ditemui usai acara groundbreaking Ratu Prabu Residences 3, di Gedung Ratu Prabu 2, Jakarta, Rabu (19/8/2015).
Dia mengungkapkan, saat ini perseroan tidak akan menggarap bisnis minyak, karena harganya yang lesu. Oleh karena itu, perseroan memfokuskan diri menggarap bisnis properti.
"Proyeksi harga minyak sampai akhir tahun sebesar USD75 per barel, karena sudah enggak ada embargo di Iran. Masalah Iran membuat harga minyak dunia melemah, kita jadi tidak akan fokus ke sana, kita garap bisnis properti," jelas dia.
Rencana akuisisi 75 persen saham itu, menurut Agus, dilakukan saat harga minyak berada di posisi USD55-USD60 per barel. "Awal tahun lah. Perlu waktu tambahan lagi, gara-gara Iran ini jadi rumit," pungkas Agus.
Sebelumnya, perseroan berencana mengambil alih mayoritas saham Odira Energi Persada di blok Karang Agung, Sumatra Selatan. Menurut Sekretaris Perusahaan Ratu Prabu Energi, Martini Suarsa, perusahaannya mengakuisisi 75 persen interest PT Odira Energi Persada di blok itu. "Kita akan jadi mayoritas " ujar Martini.
Rencana akuisisi itu disepakati dalam bentuk nota kesepahaman yang ditandatangani oleh Direktur Utama Ratu Prabu B.Bur Maras dan Corporate Secretary Odira Energi Karang Agung Tedjo Utomo. Blok Karang Agung terletak di Sumatra Selatan dengan luas 2.459,68 kilometer persegi.
Tujuan akuisisi ini adalah meningkatkan pendapatan Ratu Prabu dari bidang usaha migas. Adapun nilai akuisisi 75 persen interest Odira itu sebesar USD61 juta. Setelah penandatanganan MOU tersebut akan dilakukan due diligence yang akan dimulai pada awal Juli 2015 dalam jangka waktu maksimal tiga bulan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News