Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

Penurunan GWM Topang Laba Bersih Perbankan

Ekonomi giro wajib minimum
Annisa ayu artanti • 02 Desember 2019 08:21
Jakarta: Bahana Sekuritas menilai upaya otoritas moneter untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas nilai tukar di tengah perang dagang dan pelemahan ekonomi global melalui bauran kebijakan berdampak positif bagi industri perbankan khususnya untuk menjaga laba bersih.
 
Analis Bahana Sekuritas Prasetya Christy Gunadi mengatakan Bank Indonesia (BI)) telah melakukan pelonggaran moneter dengan menurunkan suku bunga acuan secara bertahap sejak Juli dengan total penurunan sebesar 100 basis points (bps) menjadi lima persen untuk menopang pertumbuhan ekonomi saat inflasi terjaga stabil rendah.
 
Kemudian untuk menambah ketersediaan likuiditas di pasar dan mendorong bank untuk menyalurkan kredit, pada Juni dan November, BI menurunkan giro wajib minimum (GWM) rupiah untuk bank konvensional dan syariah secara total masing-masing sebesar 100 bps menjadi 5,5 persen dan empat persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pelonggaran GWM yang dilakukan pada November dan yang akan berlaku pada Januari 2020, menambah likuiditas di sistem perbankan sekitar Rp26 triliun, meski tidak terlalu besar, namun pelonggaran ini menjadi sinyal kepada pasar bahwa BI sedang menempuh kebijakan akomodatif yang masih akan berlanjut hingga tahun depan," kata Prasetya dalam keterangan tertulisnya, Senin, 2 Desember 2019.
 
Ia menjelaskan, saat ini rasio kredit terhadap simpanan atau yang lebih dikenal loan to deposit ratio (LDR) masih berada dikisaran 97 persen hingga September 2019. Penurunan GWM tidak serta merta mendorong kemampuan bank untuk menyalurkan kredit, karena tambahannya bagi pertumbuhan kredit diperkirakan sekitar 0,5 persen, sehingga dampaknya bagi penurunan LDR hanya sekitar 40 bps.
 
"Namun bagi sebagian bank besar pelonggaran ini akan berdampak positif bagi peningkatan laba bersih yang diperkirakan melebihi satu persen,’’ ucap dia.
 
Hingga akhir September 2019, kredit perbankan tumbuh sebesar 7,89 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) memperkirakan hingga akhir tahun ini kredit bank akan tumbuh dikisaran sembilan persen dan akan tumbuh dikisaran 10 persen pada 2020, dengan telah mempertimbangkan pengaruh dari pemotongan suku bunga acuan dan pelonggaran GWM.
 
"Pemotongan GWM akan memberi ruang lebih besar bagi perbankan untuk membukukan pendapatan dari bunga kredit daripada bunga yang diperoleh dari penempatan dana di BI melalui GWM," ujar Prasetya.
 
Bahana merekomendasikan beli untuk saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan target harga Rp5.300 per saham, karena sebagai bank yang fokus membiayai usaha menengah kecil dan mikro (UMKM) mengenakan bunga kredit yang lebih tinggi dibanding bank besar lainnya seperti Bank Mandiri, Bank Central Asia dan Bank Negara Indonesia (BNI), dengan rasio kredit bermasalah yang terjaga. Dengan pelonggaran GWM, laba bersih BBRI diperkirakan akan naik sekitar 1,07 persen pada 2020.
 
Selain itu rekomendasi beli juga diberikan untuk Bank Mandiri, dengan target harga Rp9.000 per saham, karena bank yang memiliki kode saham BMRI ini fokus untuk menjaga pendapatan bunga bersih atau net interest margin (NIM) dan memperbaiki rasio kredit bermasalah. Pelonggaran GWM diperkirakan akan membantu kenaikan laba bersih Bank Mandiri sebesar 1,04 persen pada 2020.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif