Direktur Pemasaran KRAS, Yerry, pun berharap jika pasar baja akan kembali normal kendati pasar internasional sedang bergejolak, serta adanya peraturan Permendag 28/M-DAG/PER/6/2014 mengenai ketentuan impor baja paduan.
"Harga pasar akan kembali normal, karena terciptannya iklim persaingan yang fair," harap Yerry, dalam siaran persnya, di Jakarta, Kamis (18/9/2014).
Dia melanjutkan, penerapan Permendag tersebut menjamin kondisi perdagangan baja domestik kembali normal dan tidak terganggu oleh praktek-praktek perdagangan yang ilegal dan tidak adil.
Selain itu, pasar juga menunjukkan sentimen positif dengan menaruh harapan kepada pemerintah baru untuk merealisasikan berbagai proyek infrastruktur ke depan.
Di samping itu, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap USD turut mempengaruhi kenaikan harga baja terutama HRC. Hal ini dikarenakan beberapa bahan baku masih harus diimpor dengan harga pembelian dalam USD dan berimbas pada biaya produksi baja yang membengkak.
"Dengan demikian, ada keyakinan yang kuat terhadap pasar harga baja domestik yang akan segera membaik," tambah dia.
Sekadar informasi, Rusia dan Ukraina merupakan negara pemasok slab terbesar di dunia. Adapun total ekspor slab Rusia dan Ukraina diperkirakan mencapai lebih dari 13,5 juta ton atau sekitar 54 persen dari total kebutuhan ekspor slab dunia sekitar 25 juta ton (SBB Platts).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News