Tingkat volume penjualan yang mencapai hasil yang signifikan sebesar 39,59 persen dari 837 ribu ton menjadi 1,1 juta ton di semester I-2016. Laba kotor mencapai USD99,92 juta dari sebelumnya mengalami rugi kotor USD38,9 juta. Laba operasi mencapai USD26,69 juta naik, dari rugi operasi USD103,68 juta.
Analis Danareksa Capital Guntur Tri Haryanto menyebutkan, laba usaha Krakatau Steel per semester I-2016 yang positif tentunya memperlihatkan membaiknya sektor baja dalam negeri. Hal itu dikarenakan, pemerintah tengah mendorong pembangunan infrastruktur, seperti jalan tol dan lainnya. Hasilnya, permintaan baja domestik mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.
"Volume penjualan KRAS bisa naik lagi melihat proyek pemerintah yang ada saat ini," kata Guntur kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (30/8/2016).
Kinerja semester I yang meningkat, diproyeksikannya akan berlanjut hingga akhir tahun ini. Karena, faktor dorongan pemerintah terhadap proyek infrastruktur yang menimbulkan sentimen positif bagi kinerja KRAS. "Masih akan terus baik, jika terus menerus proyek infrastruktur pemerintah berjalan," ungkap Guntur.
Senada, Equity Analyst BNI Securities, Angka Adiwirasta menambahkan, sektor baja nasional akan ditopang oleh pembangunan infrastruktur, infrastruktur akan berjalan linier terhadap konsumsi baja domestik, selain infrastruktur permintaan baja dari sektor otomotif juga akan mendorong permintaan baja ke depan.
"Akan ada perbaikan kinerja KRAS, dengan melihat perolehan laba operasi KRS, jika dibanding kerugian yang dialami periode yang sama di 2015," ungkap Angka.
Proyeksi kinerja KRAS yang masih akan bagus hingga akhir tahun ini, lanjut Guntur, juga akan didukung oleh rencana right issue perseroan yang telah direstui oleh pemegang saham lewat Kementerian BUMN. Sebelumnya, RUPSLB KRAS telah menyetujui penambahan modal ditempatkan dan disetor perseroan melalui penawaran umum terbatas dengan HMETD sebesar Rp1,87 triliun yang terdiri dari penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp1,5 triliun dan investor publik sebesar Rp375 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News