"Produk kami berupa baja gulungan canai panas dan dingin masih mendominasi pasar nasional dengan pangsa masing-masing 37 persen dan 28 persen," kata Direktur Utama Krakatau Steel Sukandar, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Kamis (24/12/2015).
Sukandar mengatakan ke depan perseroan akan terus mempertahankan produk tersebut meskipun harga dan permintaan pasar baja internasional masih melemah. Permintaan baja Tiongkok turun sebesar 7,5 persen di Juli 2015, merupakan penurunan terbesar sejak krisis finansial 2008. Sedangkan untuk tahun ini diperkirakan turun sebesar 3,4 persen (YoY).
Ia menilai, kondisi ini membuat produsen baja di Tiongkok mengalihkan ke pasar internasional, yang ditunjukkan oleh kenaikan ekspor baja Tiongkok sebesar 32,1 persen (YoY) di September 2015 dan menyebabkan kelebihan pasokan di pasar global, sehingga berdampak pada turunnya harga di pasar global.
Hal ini memiliki dampak terhadap kinerja Krakatau Steel di mana pendapatan bersih pada kuartal III-2015 mengalami penurunan sebesar 27,0 persen (YoY) atau menjadi UDS1.360 juta. Ini disebabkan oleh penurunan volume penjualan dan harga jual rata-rata produk baja.
Sebagai informasi, World Steel Association (WSA) memproyeksikan penurunan permintaan baja global sebesar 1,7 persen menjadi 1.513 juta ton di 2015, terutama disebabkan oleh melemahnya perekonomian Tiongkok. Untuk 2016, permintaan baja global diprediksi tumbuh sebesar 0,7 persen dengan ekspektasi perekonomian Tiongkok mulai pulih.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News