Ilustrasi. Antara/Eric Ireng
Ilustrasi. Antara/Eric Ireng

Yuk Simak Tips Investasi Berikut!

Ekonomi investasi keuangan
Husen Miftahudin • 19 Januari 2015 14:21
medcom.id, Jakarta: Berdasarkan survei Citi FinQ yang dilakukan oleh Citigroup Asia Pasific, Indonesia adalah negara yang memiliki pemahaman keuangan tertinggi dibandingkan negara Singapura, Filipina, Australia dan Taiwan. Hal ini dikarenakan, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki optimisme terhadap kondisi keuangan di masa depan.
 
Optimisme ini terlihat dari tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap investasi dan hal terkait. Pada 2014 sendiri, pilihan instrumen investasi yang paling populer pada masyarakat Indonesia adalah dana tunai, diikuti oleh asuransi, properti, dan reksadana.
 
Namun, investasi apa yang tepat pada tahun ini di tengah kondisi perekonomian dunia yang saat ini masih tak menentu?
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Senior Vice President, Head of Wealth Management Indonesia, Ivan Jaya, menjawab pertanyaan tersebut. Dia mengungkapkan, untuk memilih instrumen investasi harus memiliki tiga dasar utama untuk berinvestasi.
 
Ketiga hal tersebut, ungkap dia adalah, seorang nasabah haruslah mengetahui dan memahami tujuan dari investasi tersebut, mengetahui jangka waktu investasinya serta profile risiko yang dinilai oleh pribadi itu sendiri.
 
"Investasi yang paling baik tentunya kami kembalikan pada nasabah, karena tergantung profile risikonya juga. Nasabah yang mempunyai profil risiko risk taker, bisa mempertimbangkan instrumen investasi yang berisiko tinggi," ucap Ivan saat ditemui Metrotvnews.com, seperti dikutip Senin (19/1/2015).
 
Dia menyebut, instrumen investasi produk-produk yang memiliki risiko besar seperti reksadana dan saham sangat cocok bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah. Menurut dia, reksadana dan saham merupakan investasi yang berisiko tinggi, tetapi juga memiliki pengembalian dana yang besar pula.
 
"Memang investasi di bidang tersebut itu high risk high return. Namun itu kita kembalikan lagi, yakni harus sesuai dengan tujuan investasi si individual tersebut," papar Ivan.
 
Terkait rupiah yang kian melemah, dia mengungkapkan bahwa hal tersebut tak harus dikhawatirkan masyarakat Indonesia yang ingin berinvestasi. Pasalnya, Indonesia sendiri tahun lalu memiliki nett foreign inflow sebesar USD3,8 miliar di pasar saham. Selain itu, sambung dia, net foreign inflow di fixed income market tahun lalu adalah USD11 miliar.
 
"Dengan torehan ini menunjukkan bahwa orang asing saja masuk ke Indonesia. Hal ini membuktikan Indonesia saat ini dilirik dan diminati oleh investor asing di sini," papar dia.
 
Namun, kembali lagi ia mengucapkan, terkait investasi yang cocok, itu harus disesuaikan dengan kondisi nasabah. Seperti misalnya, jikalau para nasabah masih berpikiran konservatif, maka investasi yang cocok adalah deposito atau obligasi pemerintah.
 
"Tentunya harus disesuaikan dengan nasabah itu sendiri, karena akan beda nantrinya. Kalau nasabah itu konservatif, saya menyarankan untuk pilih investasi yang konservatif juga seperti deposito atau produk obligasi pemerintah," pungkas Ivan.
 
(Berita ini merupakan ralat dari berita sebelumnya: Mau Tahu Investasi yang Tepat Tahun Ini?

 

(WID)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif