Pergerakan Rupiah Tentukan Keputusan BI 7-DRR
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Zabur Karuru)
Jakarta: Pergerakan rupiah pada perdagangan pekan ini menjadi bahan pertimbangan bagi Bank Indonesia (BI) guna memutuskan kenaikan suku bunga kebijakan BI 7 days repo rate (7-DRR).

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta A Tony Prasetiantono mengatakan apabila nilai tukar rupiah terus berada di atas Rp14 ribu, pilihan untuk menaikkan suku bunga kebijakan tidak bisa dihindari.

"Kalau rupiah masih di atas Rp14 ribu per USD, rasanya tidak ada pilihan lain kecuali menaikkan suku bunga acuan menjadi lima persen," ujar Tony saat dihubungi, Minggu, 24 Juni 2018.

Hal ini tentu berdampak negatif pada ekspansi kredit bank. Namun, ia melihat bahwa hal itu bisa ditanggulangi karena BI akan melakukan relaksasi loan to value (LTV) untuk membantu ekspansi kredit bank.

Meski demikian, dampak pelonggaran LTV memerlukan waktu bagi implementasinya sehingga untuk jangka pendek, ekspansi kredit akan menjadi tertahan.

"Dampaknya, pasti pertumbuhan kredit lemah, tidak bisa double digit. Mungkin maksimal hanya di sembilan persen," ujarnya.

Secara teoretis, kenaikan suku bunga kebijakan akan memperlemah pasar modal karena akan ada migrasi dana dari pasar modal ke pasar uang. "Karena itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) kemungkinan akan tertekan, tetap di bawah level 6.000," tandasnya.

Pasar uang dan pasar modal itu, jelasnya, seperti bejana berhubungan. Jika suku bunga bank rendah, dana lari ke pasar modal. Sebaliknya, jika suku bunga naik, aliran dananya berubah ke pasar uang.

Dampak selanjutnya akan berujung pada pertumbuhan ekonomi tertekan ke bawah. Perkiraannya, pertumbuhan ekonomi berada di angka 5,2 persen atau lebih rendah daripada target pemerintah 5,4 persen. (Media Indonesia)

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id