Direktur Utama (Dirut) Krakatau Steel Sukandar mengatakan, murahnya bea masuk baja ke Indonesia memberikan dampak yang besar bagi kinerja perseroan selama ini.
"Dengan rendahnya bea masuk membuat impor produk baja semakin meningkat, dengan besarnya kebutuhan pasar terhadap produk baja di Tanah Air, terus berpengaruh pada harga baja, pada akhirnya mengganggu kinerja kami," tutur dia, ketika ditemui usai mengadakan RUPS Tahun Buku 2014 di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (2/4/2015).
Melihat keadaan itu, pemerintah harus memperhatikan dengan baik industri baja yang ada di Tanah Air, agar kinerja perseroan tidak memburuk seperti yang telah diraih pada tiga tahun lalu. Selain itu, dia berharap, pemerintah bisa menyamakan bea masuk ke Indonesia dengan negara lain yang ada di kawasan Asia.
"Seluruh negara di Asia dan Eropa, pemerintahnya memproteksi dengan baik pasar baja dalam negerinya. Biaya masuk di Indonesia paling rendah. Kita minta pemerintah paling tidak menyamakan bea masuk dengan negara lain di Asia saja," tegasnya.
Bea masuk baja di Indonesia hanya lima persen, jika dibandingkan dengan Malaysia yang lebih rendah. Sebab Malaysia membebankan bea masuk sebesar 20 persen ditambah 24,8 persen tarif antidumping. Thailand mengenakan bea masuk lima persen ditambah kebijakan antidumping untuk 24 negara hingga 33 persen.
Sekadar diketahui, Krakatau Steel merugi USD20,43 juta di 2012. Pada 2013 merugi USD13,98 juta, di 2014 membengkak ruginya hingga 971,6 persen menjadi USD149,81 juta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News