Ilustrasi paket perjalanan dari Pigijo. Foto : Pigijo.
Ilustrasi paket perjalanan dari Pigijo. Foto : Pigijo.

Pigijo Jadi UKM Pertama Tercatat di Bursa

Ekonomi bei ipo
Ilham wibowo • 08 Januari 2020 18:25
Jakarta: PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (Perseroan) atau Pigijo jadi usaha kecil menengah (UKM) pertama yang resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan rintisan atau startup berkode emiten PGJO ini berada di papan akselerasi.
 
Perusahaan yang bergerak di bidang penyedia jasa digital travel Indonesia itu menawarkan sebanyak 150 juta saham baru kepada publik. Angka itu setara dengan 48,98 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah penawaran umum perdana saham dengan nilai nominal Rp80 per saham dan berpotensi meraup dana sebesar Rp12 miliar dari IPO.
 
Direktur Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil OJK I Made Bagus Tirtayasa mengatakan bahwa Pigijo merupakan satu dari sembilan perusahaan kelompok UKM yang telah melangkah untuk menaikan level bisnis di emisi 2019. Pencatatan saham perdana ini pun jadi bukti pasar modal bisa dimanfaatkan bukan hanya pemain dengan aset besar.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita berharap bahwa emiten ini dalam jangka waktu yang tidak lama semakin sehat, meningkat dan naik kelas," kata Made di Main Hall Gedung BEI, Jakarta Selatan, Rabu, 8 Januari 2020.
 
OJK terus mendorong UKM untuk berani naik level dengan memanfaatkan pendanaan pasar modal. Regulasi telah dibentuk melalui (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017 tentang Pernyataan Pendaftaran dalam Rangka Penawaran Umum dan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu oleh Perusahaan Tercatat Dengan Aset Skala Kecil Atau Perusahaan Tercatat Dengan Aset Skala Menengah dan belum dapat memenuhi persyaratan di Papan Pengembangan.
 
Peraturan tersebut mengatur tentang klasifikasi perusahaan aset skala kecil dan menengah, termasuk batasan pendanaan modal perusahaan. Perusahaan dengan aset skala kecil adalah yang memiliki aset tidak lebih dari Rp50 miliar, sedangkan perusahaan skala menengah memiliki aset lebih dari Rp50 miliar sampai dengan Rp250 miliar.
 
"Pasar modal itu tidak hanya untuk perusahaan besar, ke depan itu akan semakin banyak perusahaan kecil menengah yang bisa memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan," ungkapnya.
 
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia IGD Nyoman Yetna Setya mengatakan UKM harus berani berada di level bisnis tertinggi dengan memanfaatkan fasilitas IDX Incubator yang telah dibentuk sejak April 2017. Beragam program pendampingan diberikan agar UKM bisa masuk papan akselerasi hingga papan utama di bursa.
 
"Kami harapkan temen-temen mulai bisa memanfaatkan IDX Incubator atau masuk ke papan akselerasi tanpa IDX Incubator. Di pasar modal, perusahaan yang menarik itu perusahaan yang memiliki prospek, sustein, mendatangkan return serta pertumbuhan," ungkapnya.
 
Dalam kesempatan itu, CEO Pigijo Claudia Ingkiriwang mengungkapkan pihaknya antusias dengan IPO ini dalam meningkatkan level perusahaan. Pendanaan melalui pasar modal juga ditujukan dalam memberikan kontribusi untuk membangun ekosistem pariwisata dari Sabang sampai Merauke.
 
Selain itu, kehadiran Pigijo di BEI juga dapat menjadi inspirasi untuk teman-teman startup agar berani untuk melantai di bursa. Menurutnya OJK dan IDX telah memberikan kemudahan dengan dibukanya papan akselerasi untuk UMKM dan startup.
 
”Dengan model bisnis yang prudent, namun tetap dinamis dalam melihat perubahan teknologi dan kebutuhan pasar khususnya di industri pariwisata Indonesia, dapat membangun semangat dari PGJO untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan sehingga dapat memberikan manfaat kepada seluruh pemegang saham,” kata Claudia.
 
Dana yang diperoleh dari hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja perseroan seperti biaya pemasaran dan promosi, biaya sewa, serta biaya operasional guna mendukung kegiatan usaha perseroan. Perusahaan telah menunjuk PT Surya Fajar Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
 
Claudia optimistis sektor pariwisata bakal menjadi primadona pemasukan devisa negara yang juga akan berdampak positif kepada Pigijo. Kebijakan pemerintah untuk memperkuat promosi pariwisata nasional untuk meningkatkan masa tinggal wisatawan mancanegara juga berdampak positif kepada Penawaran Umum dari Pigijo. Aktivitas ini meliputi promosi digital, pengembangan paket wisata, dan perluasan paket wisata di destinasi liburan berbagai daerah di Indonesia.
 
Dengan IPO, Pigijo mentargetkan tidak hanya menggandeng wisatawan domestik tapi juga wisatawan mancanegara agar dapat membantu Kemenparekraf dalam memenuhi target kunjungan wisata. Hal ini tentunya membutuhkan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan pariwisata tak terkecuali masyarakat Indonesia sebagai tuan rumah.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif