IHSG dibuka pada level 5.940,68, sempat menyentuh level tertinggi 5.985,50, dan turun ke level terendah 5.906,74. Penguatan ini terjadi ketika investor masih mencermati sejumlah sentimen global, termasuk data inflasi Amerika Serikat (AS) yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan.
Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut data inflasi AS September menjadi salah satu hal yang dicermati pelaku pasar. Konsensus memperkirakan inflasi tahunan AS mencapai 3,6 persen, meningkat dari 3,4 persen pada Agustus.
Realisasi inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat dolar AS. Kondisi itu dapat menekan nilai tukar rupiah dan memengaruhi aliran dana investor asing ke pasar keuangan Indonesia.
Selain inflasi, perkembangan geopolitik dan sentimen terkait MSCI juga perlu diperhatikan. Meski IHSG berada di zona hijau pada perdagangan siang, pergerakan indeks masih dapat berubah hingga penutupan pasar seiring perkembangan sentimen domestik maupun global.
IHSG Menguat, Sektor Energi Pimpin Kenaikan
Penguatan IHSG pada perdagangan siang turut diikuti kenaikan sejumlah indeks saham lainnya. Indeks LQ45 naik 1,24 persen ke level 596,52, sedangkan Nikkei 225 menguat 0,08 persen ke 67.830,00 dan Hang Seng naik 0,07 persen ke 24.365,13. Sebaliknya, indeks KOSPI melemah 0,48 persen ke level 6.003,33.
Dari pasar saham domestik, sektor energi mencatat kenaikan terbesar sebesar 1,73 persen. Sektor komunikasi menyusul dengan penguatan 0,76 persen, sementara sektor utilitas naik 0,57 persen.
Di sisi lain, sektor kesehatan melemah paling dalam sebesar 1,33 persen. Sektor finansial turun 0,41 persen dan sektor barang konsumsi primer atau consumer staples melemah 0,31 persen. (Wisa Irena Br Sitepu)