Laba Adaro Energy Tertekan
Presiden Direktur & Chief Officer Adaro Energy Garibaldi Thohir. (FOTO: MI/Fetry)
Jakarta: PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatat pertumbuhan laba pada kuartal III-2018 turun yaitu USD312,70 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya USD372,45 juta.

Berdasarkan laporan keuangannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 31 Oktober 2018, pembentukan laba yang diperoleh ADRO didorong dari pendapatan usaha yang meningkat 8,5 persen dari USD2,43 miliar menjadi USD2,66 miliar.

Pendapatan usaha tersebut meningkat karena harga jual rata-rata yang tinggi atau naik sembilan persen dari periode tahun sebelumnya. Seperti diketahui, bisnis pertambangan batu bara ADRO meliputi 92 persen dari total pendapatan usaha.

Namun, karena beban pokok pendapatan yang meningkat 13 persen yakni USD1,78 miliar dari sebelumnya hanya USD1,57 miliar maka laba bruto yang diperoleh USD878,55 juta.

Kenaikan beban pokok ini disebabkan oleh kenaikan biaya penambangan akibat volume pengupasan lapisan penutup yang juga mendorong kenaikan nisbah kupas, kenaikan harga bahan bakar minyak, serta kenaikan pembayaran royalti kepada pemerintah. Adapun, royalti yang dibayarkan kepada pemerintah naik sembilan persen menjadi USD277 juta.

Kemudian, laba juga terkikis karena beban usaha yang meningkat yaitu USD138,17 juta dari sebelumnya USD128, 12 juta. Lalu beban keuangan yang tercatat yaitu USD49,72 juta, kerugian neto ventura bersama USD65,77 juta, dan beban pajak penghasilan USD290,83 juta.

Meski demikian, dalam keterangan tertulisnya, Presiden Direktur & Chief Officer Adaro Energy Garibaldi Thohir mengatakan ADRO terus menjaga likuiditas dan posisi keuangan yang sehat dan arus kas yang lebih baik.

"Kami tetap memiliki keyakinan terhadap fundamental pasar batu bara di jangka panjang dan terus mengeksekusi prioritas strategis untuk memastikan penciptaan nilai yang berkelanjutan dan di saat yang sama mempertahankan posisi keuangan yang sehat serta menghasilkan laba yang tinggi,” ucap Garibaldi Thoir.

Tercatat, total aset hingga 30 September 2018 sebesar USD7,15 miliar lebih tinggi empat persen daripada pada periode yang sama tahun sebelumnya.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id