Tiga Investor Ingin Suntik Modal Muamalat
Ilustrasi aktivitas di Bank Muamalat. (FOTO: MI/Adam Dwi)
Jakarta: Presiden Direktur PT Bank Muamalat Indonesia Tbk Achmad K Permana menyampaikan ada tiga calon investor dari dalam dan luar negeri yang tertarik untuk menyuntikkan modal ke pionir bank syariah di Indonesia itu.

"Ada tiga calon investor, yang dari luar dua, dalam negeri satu. Tiga-tiganya masih on progress. Tapi saya belum bisa konfirmasi siapa spesifiknya sampai nanti (saja) kalau sudah sign dan agree dengan kami," ujar Achmad di Jakarta, akhir pekan lalu.

Achmad hanya menyebutkan dua calon investor dari luar negeri tersebut ialah konsorsium yang berasal dari Singapura dan Timur Tengah. Ketika ditanya soal investor dari dalam negeri ialah bank badan usaha milik negara (BUMN), Achmad menolak untuk mengonfirmasi.

"Jadi ada dari dalam negeri juga. Setelah confirm, nanti kami disclosed siapa," ujar Achmad sebagaimana dikutip dari Antara.

Sejak tahun lalu, Bank Muamalat memang sudah merencanakan untuk melakukan aksi korporasi melalui hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) oleh investor strategis untuk menambah modal.

PT Minna Padi Investama disebut siap menjadi pembeli siaga rights issue Bank Muamalat, tetapi batal karena tidak mampu memenuhi kewajiban sebelum tenggat yang ditentukan sesuai kesepakatan.

Berdasarkan laporan keuangan bank per kuartal IV-2017, aset Muamalat tumbuh 10,59 persen (yoy) menjadi Rp61,7 triliun. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) bank itu juga naik menjadi 13,62 persen dari tahun sebelumnya sebesar 12,74 persen.

Akan tetapi, dari sisi rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) naik menjadi 4,43 persen dari tahun lalu yang sebesar 3,83 persen. Laba juga ikut tergerus 67,55 persen menjadi Rp26,12 miliar dari tahun lalu sebesar Rp80,51 miliar.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menyatakan Bank Muamalat tidak mengalami persoalan likuiditas yang mengkhawatirkan, tetapi membutuhkan investor yang bisa menyuntikkan modal untuk ekspansi usaha.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan permodalan sangat dibutuhkan Bank Muamalat. Menurut Wimboh, hal itu wajar apabila sektor perbankan memutuskan untuk tumbuh dan berkembang lebih optimal.

Apalagi Bank Muamalat merupakan pionir dari industri keuangan syariah dan tercatat sebagai bank syariah pertama di Indonesia. (Media Indonesia)

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id