Dua Saham Grup Lippo masih Sulit Bangkit
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA)
Jakarta: Dua saham milik Grup Lippo, yakni PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dan PT Lippo Cikarang Utama Tbk (LPCK), masih akan sulit keluar dari tekanan akibat sentimen negatif terkait dengan kelanjutan proyek Meikarta dan penurunan peringkat perusahaan dari lembaga pemeringkat Moody's.

Penurunan peringkat oleh Moody's terhadap LPKR dari B2 menjadi B1 didasarkan pada kekhawatiran akan kondisi likuiditas dan ketidakmampuan perusahaan untuk membayar bunga dan utang.

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama mengatakan untuk sementara pasar memang sebaiknya wait and see terlebih dahulu terhadap saham LPKR.

"Secara teknikal pergerakan harga saham LPKR masih belum menunjukkan sinyal positif. Penyebabnya isu negatif terkait dengan pengembangan proyek Meikarta," terang Nafan saat dihubungi, Minggu, 24 Juni 2018.

Sejak awal Januari 2018, harga saham emiten ini melanjutkan penurunan akumulasi dari tahun sebelumnya. Dibuka pada level 484 di perdagangan awal 2018, kini harga saham mereka pada Jumat, 22 Juni 2018, berada pada level 342 per saham atau tergerus 29,3 persen.

Demikian pula terjadi pada saham LPCK yang membawahkan PT Mahkota Sentosa Utama yang mengelola proyek Meikarta. Di awal tahun tren penurunan harga saham berlanjut, dari Rp3.150 kini menjadi Rp1.950 atau telah tergerus 38,09 persen.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee sepakat aksi wait and see sebaiknya diterapkan apabila ingin membeli saham dua emiten ini. "LPKR dan LPCK ya jangan dulu," ujarnya di gedung BEI.

Meikarta, lanjutnya, memang menjadi beban terbesar grup milik taipan Mochtar Riady karena harus menyerahkan kepada pembeli 18 tower dari 92 tower yang rencananya dibangun pada akhir tahun ini.

Nilainya mencapai sekitar Rp6 triliun. Sementara itu, kapitalisasi pasar LPKR kini hanya Rp7,89 triliun dan LPCK Rp1,36 triliun.

"Yang dicatat Moody's utang perusahaan yang terlihat di buku, tapi ini masih ada kewajiban untuk delivery di akhir tahun," tandasnya.

Yang pasti, Grup Lippo perlu menyiapkan langkah-langkah yang perlu diambil guna memenuhi likuiditas mereka.

Jual Aset

Dalam keterangan hasil tertulis, Moody's mengatakan LPKR perlu melakukan penjualan aset untuk pemenuhan likuiditas mereka pada 12-18 bulan mendatang. Kegagalan dari penjualan aset tersebut bisa berpengaruh terhadap peringkat perseroan ke depan.

Dalam menanggapi hal tersebut, Head of Corporate Communication LPKR, Danang Kemayan Jati, mengatakan salah satu business model LPKR ialah assets light. LPKR akan melakukan divestment dari aset berupa mal dan rumah sakit melalui dua REIT's di Singapura.

"Ini bagian dari catatan Moody's hal yang harus dilakukan oleh LPKR dan yang sedang dikerjakan saat ini dan akan selesai di tahun ini. Juga aset lainnya yang bisa meningkatkan likuiditas," ujarnya saat dihubungi, Minggu, 24 Juni 2018.

Terkait dengan proyek Meikarta, ia menjelaskan bahwa proyek tersebut memiliki sumber pendanaan yang independen dari LPKR seperti penyertaan dari investors, bank financing, dan sudah tentu dari hasil pre-selling product.

"Jadi, hal ini tidak akan saling memengaruhi. Ini saya kira cukup menjelaskan situasinya," tutup Danang. (Media Indonesia)



(AHL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id