Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

Jokowi Effect Bukan Vitamin Mujarab bagi Pasar

Ekonomi saham pasar saham
Annisa ayu artanti • 18 Oktober 2019 10:47
Jakarta: Kondisi pasar saham masih kurang bergairah sejak dua pekan lalu, meskipun masih ada harapan Jokowi effect tahap kedua usai pelantikan pada 20 Oktober 2019.
 
Tercatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum sepenuhnya pulih. Bahkan sempat menyentuh level 5.900, sangat jauh dari yang ditargetkan oleh otoritas bursa yakni 7.000.
 
Maka dari itu, perlu vitamin atau kebijakan yang lebih mujarab terhadap perekonomian nasional untuk menggairahkan pasar kembali.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan penantian Jokowi effect jelang pelantikannya di periode kedua pun dinilai masih kurang 'joss' untuk menggairahkan pasar. Perlu vitamin yang lebih banyak untuk mengembalikan keadaan menjadi lebih bugar.
 
"Karena kalau menganggap Jokowi effect saja, vitaminnya tidak sehebat itu. Kita masih butuh vitamin yang hebat dari itu," kata Nico saat berbincang dengan Medcom.id, Jumat, 18 Oktober 2019.
 
Nico menjelaskan beberapa vitamin yang bisa ditambah dosisnya adalah neraca perdagangan yang bagus. Kemudian defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) lebih dijaga jangan sampai menyentuh tiga persen.
 
Kemudian, adanya kebijakan perbankan nasional setelah Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunganya. Saat ini, tambah dia, perbankan dinilai masih egois untuk menurunkan bunga kreditnya.
 
"Kan fungsinya BI menurunkan tingkat suku bunga itu menstimulus ekonomi nasional dari sisi kredit. Kalau bank masih tinggi kan jadi percuma," ucap dia.
 
Tiga vitamin itu sangat sederhana, namun kata Nico kerap kali terabaikan. Hal itu ditekankan Nico lantaran Indonesia sebagai negara berkembang atau emerging market masih sangat rentan terpengaruh oleh dinamika ekonomi global.
 
"Itu vitamin sangat sederhana tapi seringkali kita melewatkannya," imbuh dia.
 
Selain itu, untuk mengembalikan pasar supaya lebih bertenaga adalah optimisme para pelaku pasar. Pertama, optimisme terhadap perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok yang akan selesai dan membuat kesepakatan pada November 2019.
 
"Kami menilai kalau indeksnya mau terbang lebih tinggi lagi, satu Amerika Serikat dan Tiongkok benar-benar membuat kesepakatan pada November di Chili nanti," sebut dia.
 
Lalu, tercapainya antara Inggris dan Uni Eropa mengenai Brexit. Kemudian terakhir, terjalinnya kesepakatan antara Tiongkok dan India.
 
"Semua ini tentu akan mengurangi tensi perang dagang dan resesi macam-macam akan hilang. karena ada sentimen positif dan optimistis untuk menatap 2020," pungkas dia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif