NEWSTICKER
Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO

Dampak Virus Korona ke Pasar Saham Semakin Terbatas

Ekonomi ihsg virus korona pasar modal pasar saham
Annisa ayu artanti • 04 Februari 2020 10:33
Jakarta: Bahana Sekuritas memandang dampak virus korona ke pasar saham semakin terbatas, karena pemerintah telah melakukan tindakan untuk membatasi penyebaran virus tersebut. Tidak dipungkiri penyebaran virus korona yang begitu cepat sempat membuat sejumlah investor wait and see terhadap penyebarannya di Indonesia.
 
Namun, menurut Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi, dengan langkah-langkah pencegahan serta gerak cepat pemerintah membuat sentimen virus ini terhadap pasar saham mulai terbatas. Tentu diharapkan virus ini bisa segera dihentikan sesegera mungkin demi kepentingan bersama.
 
"Dengan koreksi saham yang telah terjadi, sekarang adalah saat yang tepat untuk kembali masuk ke pasar saham dengan nilai valuasi yang wajar," ujar Lucky, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa, 4 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut, ia tidak memungkiri, virus yang bermula dari Wuhan ini memengaruhi komoditas global. Pasalnya, Tiongkok adalah importir terbesar untuk batu bara, nikel, dan tembaga. Tiongkok juga sebagai importir terbesar kedua untuk gas, dan emas, serta importir terbesar ketiga untuk CPO.
 
"Bila penyebaran virus ini berkepanjangan akan berpengaruh terhadap harga komoditas tersebut," jelas dia.
 
Lucky menambahkan dampak yang akan dirasakan dari keberadaan virus korona ini bagi Indonesia adalah di sektor pariwisata. Sebab, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan wisatawan Tiongkok memberi kontribusi sekitar 12 persen terhadap total wisatawan asing yang datang ke Indonesia hingga Oktober 2019.
 
Rata-rata kedatangan wisatawan Tiongkok ke Indonesia sekitar 532 ribu orang pada kuartal pertama selama periode 2017-2019 atau secara total sekitar dua juta wisatawan stiap tahunnya. Data Bank Indonesia yang berada di Bali memperlihatkan, rata-rata seorang wisatawan Tiongkok menghabiskan sekitar Rp9,7 juta setiap kedatangan di Bali pada 2018.
 
Jika kunjungan turis asal negeri Tirai Bambu itu berkurang akibat semakin parahnya virus korona, negara akan kehilangan pendapatan dari sektor pariwisata. Adapun biasanya turis dari Tiongkok lebih suka datang pada kuartal pertama dan ketiga.
 
"Dengan kasus ini, bila kedatangan wisatawan Tiongkok berkurang sekitar 50 persen saja, kira-kira berpotensi kehilangan pendapatan dari sektor pariwisata sekitar Rp2,5 triliun. Hal itu akan berpengaruh pada defisit transaksi berjalan," pungkas Lucky.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif