Illustrasi. MI/Yuniar.
Illustrasi. MI/Yuniar.

Hingga Akhir Tahun, Sekuritas Prediksi Sektor Ritel Stagnan

Ekonomi ritel pasar keuangan
01 Juli 2019 14:50
Jakarta: Kinerja sektor ritel diperkirakan stagnan sampai dengan akhir tahun ini. Ciptadana Sekuritas Asia memperkirakan belum ada stimulus yang akan menggerakan sektor ritel sampai dengan akhir tahun.
 
Indeks penjualan eceran BI pada April 2019 berada pada 229 atau naik 6,7 persen dari bulan yang sama tahun lalu. Angka ini lebih rendah dari kenaikan Maret 2019 yang mencapai 10,1 persen selama setahun . BI memprediksi bahwa indeks penjualan eceran akan mencapai 252 pada Mei atau tumbuh 9 persen secara tahunan atau lebih tinggi dari capaian Mei 2018 yang tumbuh 8,3 persen. Kenaikan ini karena musim Ramadan.
 
Ciptadana Sekuritas Asia memperkirakan bahwa daya beli akan kembali normal setelah Lebaran usai. Orang diprediksi banyak belanja pada Mei karena mendapatkan gaji bulanan, liburan, dan penjualan tahunan serta event diskon Jakarta Great Sale.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Setelah itu tak ada pengaruh signifikant dari belanja sosial pemerintah untuk meningkatkan konsumsi," kata Ciptadana dalam risetnya dikutip dalam keterangan tertulisnya, Senin, 1 juli 2019.
 
Same Store Sales Growth (SSSG) kedua emiten yang menghuni market share terbesar dalam pakaian yakni PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) dan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mengalami perlambatan dari Kuartal III 2018. Pada kuartal I-2019 RALS hanya mencapai pertumbuhan penjualan 0,3 persen secara tahunan dan LPPF minus 1,7 persen.
 
Pendapatan baik RALS maupun LPFF turun sebesar 0,4 persen dan 1,5 persen pada periode yang sama. Ciptadana menjelaskan bahwa hal ini menandakan bahwa penjualan segmen menengah kebawah melemah selain karena penetrasi dari toko online dengan harga jual yang sama.
 
Dari segmen menengah atas, PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) pada lima bulan pertama 2019 tumbuh 8,3 persen atau dibawah capaian pada tahun lalu dengan waktu yang sama dengan tumbuh 11,2 persen. Salah satu penyebabnya adalah performa penjualan yang buruk dan isu kanibalisasi antar toko. Penjualan ACES diharapkan membaik pada akhir tahun karena pergantian tahun baru dan natal.
 
Penjualan smartphone juga menurun. Pada kuartal I-2019 penjualan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) menurun 28,8 persen. Penurunan ini disebabkan oleh penjualan black market dan kurangnya produk yang menarik konsumen. Usaha pemerintah untuk melindungi pasar dari black market diperkirakan baru bisa berlaku efektif kepada kinerja ERAA pada 2020 dan 2021.
 
"Ciptadana menurunkan proyeksi untuk sektor ritel menjadi Netral dari Overweight karena kami tak melihat sentimen positif dalam jangka waktu yang dekat," kata laporan itu yang menjelaskan kalau Price Earning Ratio (PER) industri ritel sudah mahal dengan rasio 20,6 dibandingkan dengan IHSG yang sebesar 15,6.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif