Ilustrasi. Foto: dok MI.
Ilustrasi. Foto: dok MI.

ASABRI dan Jiwasraya Tak Cocok Taruh Portofolio Saham

Ekonomi Jiwasraya ASABRI
Annisa ayu artanti • 15 Januari 2020 11:24
Jakarta: Kepala Riset Koneksi Kapital Indonesia Marolop Alfred Nainggolan menilai terdapat ketidakcocokan jenis portofolio saham yang ditempatkan oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau ASABRI.
 
Ia menjelaskan perusahaan asuransi seperti Jiwasraya dan ASABRI seharusnya menempatkan portofolio investasi yang tepat.
 
Portofolio investasi tersebut harus low risk dan memiliki return jangka panjang, serta sesuai dengan kebutuhan pendanaan untuk pembayaran kewajiban. Sementara portofolio saham keduanya berbanding terbalik.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau kita lihat tadi, ini menjadi tidak cocok antara asuransi dan isi portofolionya. Jadi saya melihat ketidakcocokan itu," kata Alfred kepada Medcom.id, Rabu, 15 Januari 2020.
 
Menurutnya, kasus kedua perusahaan pelat merah itu juga serupa. Kedua asuransi itu sama-sama menaruh portofolio di saham-saham non-blue chip, saham yang memiliki risiko cukup tinggi dan rentan menjadi saham gorengan.
 
"Enggak bisa dipungkiri ya karena kasusnya sama," ucap dia.
 
Ia juga menjelaskan, sebagian besar harga saham yang ditaruh dua perusahaan tersebut terbentuk dari semu. Harga saham-saham itu tinggi pada awal IPO, sementara pada saat perdagangan selanjutnya harganya bergerak liar dan saat ini harganya anjlok atau menjadi saham gocap.
 
Tiga di antaranya adalah saham PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP) harga IPO Rp450 per saham, PT SMR Utama Tbk (SMRU) harga IPO Rp600 per saham, dan PT Hanson Internasional Tbk (MYRX) harga IPO mencapai Rp9.900 per saham.
 
"Saham yang dibentuk hanya oleh mekanisme perdagangan maka itu bisa dikatakan penuh dengan intervensi. Jadi dari situ arahnya rekayasa atau semu," tukas dia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif