Lewat Go-Jek, Astra 'Belajar' Dunia Digital
Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk Prijono Sugiarto. Medcom/Arif.
Jakarta: Beberapa bulan lalu PT Astra International Tbk (ASII) membeli saham Go-Jek. Pembelian saham dengan nominal sebesar USD150 juta atau Rp2 triliun itu menimbulkan pernyataan bagaimana langkah strategis Astra dengan membeli perusahaan yang saat itu masih rugi dan kondisi keuanganya belum mencapai net profit?

Mengenai hal ini Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk Prijono Sugiarto  menuturkan bahwa Astra belajar banyak hal dengan masuk ke Go-Jek. Dia tak memungkiri bahwa perkembangan dunia digital yang semakin pesat membuat konglomerasi di bidang otomotif itu harus mempelajari dunia digital. Kebetulan bisnis Go-Jek memiliki benang merah yang sama dengan bisnis ASII.

"Ada benang merah Go-jek dan Astra.Gojek butuh outlet kami ada Honda dan Toyota dan saya sedang jajaki adalah costumize (bisnis),"kata dia ketika berkunjung ke Media Grup, Selasa, 30 Oktober 2018.

Dia mengatakan dengan membeli saham maka dia menjadi komisaris dan rutin dalam rapat mingguan bersama investor lainnya seperti dari Google, Tencent dll mengenai perkembangan bisnis Go-Jek di Kawasan Sarinah. Dia pun berusaha belajar mengenai prospek bisnis di era digital yang terkadang tak bisa dihitung dari rasio keuangan semata.  

"Bisnis ini ga liat The compound annual growth rate (CAGR)  karena masih rugi. Saya jadi orang tua kalau ketemu persentasi Nadiem dkk, namun saya harus belajar karena trendnya adalah digitalisasi," jelas dia.  

Dia mengatakan bahwa awalnya dia dan timnya sempat menyepelekan kedatangan Nadiem saat menawarkan investasi. Nadiem datang saat pemesanan Go-jek dilakukan lewat SMS. Dia pun mengaku tak tertarik  dengan konsep itu dan terlambat masuk ketika bisnis aplikasi berkembang dan secara tak langsung menaikan nilai value Go-jek dari USD 6 juta ke USD 5 miliar.

"Dulu tim saya memandang sebelah mata bisnis itu (Go-Jek) Saya harus katakan bahwa perusahaan masih rugi tapi nilainya naik terus.  United Tractors (UT) aja jualan terus nilainya baru USD 8 miliar," jelas dia.

Dia mengakui bahwa perkembangan digitalisasi memang menjadi arah ASII dalam beberapa tahun kedepan. Dia berusaha memahami itu karena sekitar 70 persen konsumen ASII merupakan generasi millenial yang sudah paham dan bahkan lekat dengan perkembangan digital. "Kalau saya ga belajar ya, (Astra) ga kemana-mana," kata dia.

Dia pun memaklumi jika perusahaan digital masih banyak yang mencatatkan kerugian dalam laporan keuangan. Namun yang terpenting adalah bisnis itu bisa berkembang pesat ke arah yang tepat dengan tujuan yang jelas.  

"Go-Jek udah masuk ke Vietnam dan Singapura dan Somehow yang zaman now punya urusan. Memang kalau anak muda dibimbing mentor yang baik mereka akan jadi orang besar.Nadiem baru 34 tahun udah punya USD5 miliar," pungkas dia.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id