Direktur Produksi dan Strategis PT Semen Indonesia Johan Samudra (kedua dari kiri). (FOTO: MTVN/Dian Ihsan Siregar)
Direktur Produksi dan Strategis PT Semen Indonesia Johan Samudra (kedua dari kiri). (FOTO: MTVN/Dian Ihsan Siregar)

Jika KLHS Selesai, Semen Indonesia Optimistis Produksi 1,5 Juta Ton di 2017

Dian Ihsan Siregar • 03 Mei 2017 15:36
medcom.id, Jakarta: PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) tengah menunggu Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) tahap II yang lebih ilmiah. KLHS itu untuk mengetahui status cadangan air tanah (CAT) Watuputih apakah dapat ditambang atau tidak. Setelah KLHS tersebut selesai di minggu ketiga Mei 2017, pabrik di Rembang bisa beroperasi secara maksimum meski target produksi jauh dari perkiraan semula.
 
Direktur Produksi dan Strategis PT Semen Indonesia Johan Samudra mengatakan, perusahaan sudah memproduksi semen di pabrik Rembang. Bahan tidak diambil dari Rembang, melainkan dari pabrik di Tuban. Jika bahan diambil dari luar, maka Semen Indonesia bisa memproduksi semen sekitar 1.500-2.000 ton per hari.
 
Angka produksi yang terbilang kecil, kata Johan, karena ongkos operasi bahan baku dari Tuban sangat besar. Bahkan, apabila bahan diambil terus menerus dari luar, produksi di Rembang pada tahun ini hanya bisa mencapai 600 ribu ton. Angka itu jauh dari proyeksi awal sebesar 3 juta ton per tahun.

"Kalau seandainya bahan batu kapur kita bisa diambil dari Rembang, kita bisa produksi 1,5 juta ton di tahun ini. Karena sudah beberapa bulan terlewati, dan ini sudah memasuki Mei, sudah empat bulan yang terlewat untuk produksi," tutur Johan kepada Metrotvnews.com, Rabu 3 Mei 2017.
 
Saat ini, Johan mengaku, pabrik Rembang sudah selesai hingga 99,7 persen. Karena itu, perseroan optimistis pabrik bisa beroperasi penuh di semester satu tahun ini.
 
"Mungkin tiga minggu lagi bisa ambil (bahan) dari tambang sekitar. Sedang dipersiapkan jalan masuknya. Bagaimana manajemen transportasi dan logistik sekeliling ini. Kami kalau itu sudah selesai, kami tidak ambil dari bahan baku yang kami punya selama berproduksi di sini, karena kami menghormati hasil dari KLHS yang belum final," jelas Johan.
 
Rencana peresmian, lanjut dia, belum ada. Ketika sudah ada tanda-tanda untuk peresmian, maka proses KLHS itu sudah selesai. Sehingga pabrik ini resmi beroperasi secara komersial.
 
"Dengan dijalankan pabrik, kita harus menghormati yang sudah dibuat oleh KLHS. Kita tunggu, kita taat kepada aturan lingkungan, bahan baku harus dari tambang ini (Rembang). Kalau dari luar tiga sampai empat kali lipat harganya, karena transportasi yang membuat harga bahan baku semen itu mahal," kata Johan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AHL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan