NEWSTICKER
Ilustrasi - - Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Ilustrasi - - Foto: Antara/Dhemas Reviyanto

Investasi Saham dan SUN Diprediksi Bakal Moncer

Ekonomi saham surat utang
Annisa ayu artanti • 01 Februari 2020 13:24
Jakarta: PT Bahana TCW Investment Management memperkirakan investasi pada saham dan Surat Utang Negara (SUN) akan moncer di 2020. Pasalnya, profil makroekonomi dan prospek investasi di Indonesia tahun ini lebih stabil dan menarik dibandingkan tahun lalu.
 
Berdasarkan risetnya, yield SUN dalam sepuluh tahun berpeluang turun hingga 6,3 persen dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan berada pada level 6.900 di akhir 2020.

 
"Bahana TCW optimistis dengan prospek investasi baik untuk SUN dan saham," kata Direktur Strategi Investasi Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 1 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Budi prospek investasi di Indonesia akan ditopang oleh indikator dalam dan luar negeri. Faktor eksternal terutama ditopang kebijakan bank sentral di negara maju, khususnya The Fed yang kembali menempuh pelonggaran moneter melalui penurunan suku bunga dan penggelontoran likuiditas (quantitative easing, QE).
 
Selain berpeluang menjaga suku bunga global tetap rendah, aksi QE itu akan menambah pasokan dolar sehingga membatasi tren penguatan mata uang paman sam selama ini. Di sisi lain, harga minyak diharapkan relatif stabil dengan lebih banyak pasokan dari negara selain anggota OPEC.
 
"Kondisi eksternal seperti ini pernah terjadi di 2017 yang melandasi kenaikan harga saham dan obligasi negara di negara berkembang termasuk Indonesia," jelas dia.
 
Dari sisi internal, defisit neraca berjalan dalam negeri diharapkan terkendali berkat kenaikan harga komoditas dan menurunnya impor untuk keperluan proyek infrastruktur.
 
"Terkendalinya defisit neraca berjalan Indonesia merupakan faktor fundamental yang melandasi penguatan kurs rupiah," ucapnya.
 
Lebih lanjut tren inflasi yang relatif terkendali, dan kestabilan rupiah memungkinkan Bank Indonesia melonggarkan likuiditas baik dengan menurunkan suku bunga maupun rasio giro wajib minimum. Stimulus moneter tersebut akan meningkatkan penyaluran kredit yang sangat penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
 
"Faktor positif likuiditas juga terlihat dengan mulai kembali masuk dana investor asing setelah keluar selama tiga tahun terakhir. Sedangkan, faktor valuasi seperti price to earning ratio bursa Indonesia relatif murah dibanding bursa saham Amerika Serikat dan India," pungkas dia.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif