Direktur Keuangan KAI Didiek Hartantyo. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.
Direktur Keuangan KAI Didiek Hartantyo. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.

Perbaiki Sarana, KAI Terbitkan Obligasi

Ekonomi pt kai obligasi
Annisa ayu artanti • 11 November 2019 14:15
Jakarta: PT Kereta Api Indonesia (Persero) kembali menerbitkan surat utang dalam bentuk obligasi II untuk melakukan peremajaan sarana dan prasarana perkeretaapian.
 
Direktur Keuangan KAI Didiek Hartantyo mengatakan aksi obligasi menjadi alternatif pembiayaan selain perbankan karena pada 2017 lalu perusahaan mencatat oversubscribe. Adapun target dana yang dikumpulkan dari aksi obligasi ini sebesar Rp2 triliun.
 
"KAI optimistis penawaran umum ini akan sukses seperti yang sebelumnya," kata Didiek di kawasan SCBD, Jakarta, Senin, 11 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menjelaskan pengadaan sarana baru yang dimaksud adalah pembelian kereta untuk menggantikan kereta yang usianya sudah mencapai 30 tahun. Perusahaan mencatat sampai Oktober 2019, terdapat 672 kereta yang usianya di atas 30 tahun. Kereta-kereta tersebut berupa kereta penumpang, kereta makan, kereta bagasi, dan kereta pembangkit.
 
Kemudian untuk pembaruan sarana, KAI akan melakukan repowering yaitu peningkatan daya sarana kereta api. Repowering ini meliputi pekerjaan penggantian mesin kereta penumpang, gerbong barang, pembaman lokomotif, kereta rel diesel, dan lainnya.
 
Menurutnya, semua itu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi serta peningkatan layanan bagi penumpang dan barang.
 
Selain itu, setelah dikurangi oleh biaya-biaya emisi, sebesar Rp1,2 triliun akan digunakan untuk pembayaran sebagaian pokok pinjaman kepada PT Bank HSBC Indonesia dan sisanya akan digunakan untuk pengadaan sarana baru dan pembaruan sarana.
 
Obligasi ini terbagi menjadi dua seri yaitu seri A berjangka waktu lima tahun dengan kupon 7,45 sampai 8,1 persen per tahun. Sementara untuk seri B berjangka waktu tujuh tahun dengan kupon 7,8 sampai 8,5 persen per tahun. Sedangkan untuk bunga obligasi akan dibayarkan triwulan sesuai dengan tanggal pembayaran masing-masing bunga obligasi.
 
Adapun, penjamin pelaksana emisi dalam obligasi ini adlaah PT Mandiri Sekuritas, PT Bahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, dan PT Danareksa Sekuritas.
 
Selama lima tahun terakhir yakni dari 2014-2018, KAI mencatatkan pertumbuhan pendapatan dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 25,5 persen dan rata-rata pertumbuhan laba bersih dengan CAGR sebesar 22,3 persen.
 
Di samping itu, berdasarkan laporan posisi keuangan, KAI smencatat peningkatan jumlah aset dengan CAGR 20,l persen serta diiringi pertumbuhan ekuitas dengan CAGR sebesar 30,2 persen.
 
Posisi akhir semester I-2019, total aset KAI mencapai Rp41,2 triliun dan KAI mampu mencatatkan pertumbuhan total aset sebesar 5,84 persen, pertumbuhan total liabilitas sebesar 7,1 persen dan pertumbuhan total ekuitas sebesar 4,4 persen.
 
Didiek juga yakin KAI akan memperoleh Pemyataan Efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tanggal 5 Desember 2019, dan melakukan penawaran umum pada 6-9 Desember 2019. Sedangkan untuk tanggal penjatahan diperkirakan pada 10 Desember 2019 dan ditutup dengan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 13 Desember 2019.
 
"Dukungan yang kuat dari Pemerintah terhadap KAI dapat terlihat dan Pemerintah yang mempertahankan kepemilikan 100 persen di KAI, karena KAI ini merupakan BUMN yang menyediakan, mengatur, dan mengurus jasa angkutan kereta api di seluruh Indonesia," pungkas Didiek.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif