Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Desi Angriani
Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Desi Angriani

BEI Fokus Dalami Pasar Reksa Dana Saham

Ekonomi ihsg bei pasar modal
Angga Bratadharma • 20 November 2019 16:48
Jakarta: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah fokus pada upaya pendalaman pasar reksa dana saham atau Exchange Traded Fund (ETF). Di antara langkah yang dilakukan adalah dengan mengkaji dan merumuskan sejumlah kebijakan terkait potensi-potensi pemberian insentif bagi pengembangan pasar ETF.
 
Adapun ETF adalah reksa dana yang diperdagangkan di bursa efek. ETF merupakan kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya dicatat dan diperdagangkan di bursa efek seperti halnya saham. Seperti halnya saham atau reksa dana pada umumnya terdapat pula manajer investasi dan bank kustodian.
 
Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan pada 2020 BEI akan mengupayakan optimalisasi transaksi ETF di pasar sekunder dan berencana mengubah maximum price movement untuk instrumen investasi ini. Langkah ini diharapkan memberi efek positif terhadap pertumbuhan ETF di masa mendatang.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Upaya ini juga akan melibatkan OJK, manajer investasi, dealer partisipan dan pihak terkait lainnya," kata Inarno, di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu, 20 November 2019.
 
Di sisi lain Inarno pun menyambut terselenggaranya Indonesia ETF Conference 2019, terutama dalam upaya mengembangkan produk ETF di era revolusi industri 4.0.
 
"Salah satu insentif yang baru saja dikeluarkan BEI, antara lain memberikan pembebasan biaya transaksi dealer partisipan mulai September 2019. Bursa optimistis dengan kerja sama dan dukungan dari berbagai pihak, produk ETF dapat lebih berkembang di pasar modal Indonesia di masa mendatang," tukasnya.
 
Inarno menambahkan penghapusan levy fee untuk instrumen ETF bertujuan untuk meningkatkan transaksi di pasar sekunder. Namun demikian, Inarno masih enggan menjelaskan terkait potensi penghapusan biaya pencatatan (listing fee) ETF.
 
"ETF merupakan salah satu produk investasi yang banyak diminati oleh investor retail dan institusional, karena return yang ditawarkan dan keunggulan lainnya sebagai alat investasi yang efisien dan praktis," tegasnya.
 
Di kawasan ASEAN, saat ini Indonesia menempati posisi pertama dari sisi jumlah produk ETF berbasis local index, sedangkan dari sisi total jumlah produk ETF, Indonesia menempati posisi kedua setelah Singapura yang memiliki 51 ETF.
 
"Semakin banyaknya pelaku pasar yang masuk ke pasar ETF saat ini juga mencerminkan keyakinan pasar akan potensi pertumbuhan produk ETF sebagai salah satu alternatif produk investasi bagi investor di pasar modal Indonesia, baik kalangan ritel maupun institusi," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif