Ilustrasi Gedung BEI. Foto: Medcom.id/Desi Angriani.
Ilustrasi Gedung BEI. Foto: Medcom.id/Desi Angriani.

Tak Ada January Effect di 100 Hari Jokowi

Ekonomi Kabinet Jokowi-Maruf 100 Hari Jokowi-Maruf
Annisa ayu artanti • 27 Januari 2020 12:49
Jakarta: Siklus tahunan January Effect yang ditunggu-tunggu sepanjang bulan ini tidak kunjung datang. Setelah ditutup melemah di level 6.300 pada akhir perdagangan 2019 lalu, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak menunjukkan peningkatan signifikan.
 
Biasanya pada siklus tahunan January Effect ini mayoritas saham mengalami kenaikan signifikan, namun tidak untuk tahun ini.
 
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Samuel Nico Demus mengatakan tidak ada sentimen positif dari global dan internal yang memengaruhi pergerakan indeks Indonesia saat ini.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tampaknya sentimen global saja masih kurang cukup untuk mendorong terjadinya January Effect pada IHSG kita," kata Nico kepada Medcom.id, Senin, 27 Januari 2020.
 
Sampai pekan terakhir Januari 2020, laju IHSG masih di zona merah. Dalam satu bulan terakhir, IHSG juga masih menunjukkan pelemahan. Hingga akhir perdagangan sesi pertama, Senin, 27 Januari 2020 IHSG menunjukkan pelemahan 1,05 persen atau 65,922 poin di level 6.174,79.
 
IHSG masih belum menunjukkan peningkatan, meskipun data-data perekonomian Tanah Air membaik. Nilai tukar rupiah selama satu bulan belakangan menguat, inflasi rendah, dan pertumbuhan ekonomi masih di atas lima persen.
 
Jokowi effect yang sebelumnya terjadi pada periode pertama pemerintahan Joko Widodo pun tidak terjadi pada periode keduanya. Bisa dibilang, tak ada January Effect dan Jokowi Effect pada Januari 2020 ini.
 
Menurut Nico perlu dorongan sentimen positif dari dalam negeri untuk membuat IHSG bergerak positif.
 
Saat ini, kepercayaan investor saham tengah menurun akibat kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya dan dugaan kasus korupsi PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau ASABRI.
 
Keduanya dianggap salah menempatkan portofolio investasinya ke saham-saham gorengan. "Dibutuhkan dorongan juga dari sentimen lokal," sebut dia.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif