Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

Respons Bursa terkait Gagal Bayar Surat Utang Jababeka

Ekonomi bei kawasan industri jababeka
Annisa ayu artanti • 08 Juli 2019 14:01
Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons potensi gagal bayar atau default atas surat utang anak perusahaan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) yang diterbitkan dalam keterbukaan informasi BEI pekan lalu.
 
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan pihak bursa akan meminta penjelasan dan klarifikasi terhadap kondisi tersebut.
 
"Kalau ada default terus kemudian ada peristiwa dianggap bisa pengaruhi perspektif dari investor yang pertama dilihat dari sisi materialitasnya, secara umun kita minta permintaan penjelasan dulu," kata Nyoman di Gedung BEI, Jakarta, Senin, 8 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nyoman mengatakan klarifikasi dibutuhkan untuk memberikan kepastian kepada masyarakat khususnya terhadap investor Kawasan Industri Jababeka.
 
"Kita minta perusahaan responsif untuk berikan klarifikasi. Sehingga publik nanti dapat mencerna informasinya secara merata," jelas Nyoman.
 
Setelah mengetahui asal muasal masalah tersebut, kata Nyoman, pihak bursa akan memanggil manajemen KIJA untuk memberikan penjelasan.
 
"Misalnya informasinya perlu hal-hal komprehensif, kita akan undang dengar pendapat. Kita minta dihadiri tim mereka dan direksinya dan juga yang berhubungan dengan transaksi tersebut," tukas Nyoman.
 
Dalam keterbukaan informasi, manajeman Jababeka menyampaikan bahwa ancaman gagal bayar tersebut terjadi karena perubahan susunan pengurus perusahaan.
 
Jababeka diwajibkan untuk memberi penawaran pembelian kepada pemegang notes dengan harga 101 persen dari nilai pokok notes sebesar USD300 juta dan ditambah kewajiban bunga.
 
"Dalam hal ini perseroan tidak mampu melaksanakan penawaran pembelian tersebut, maka perseroan/Jababeka International BV akan berada dalam keadaan lalai atau default," jelas manajemen Jajabeka.
 
Kondisi lalai atau default tersebut mengakibatkan perseroan atau anak-anak perusahaan perseroan lainnya menjadi dalam keadaan lalai atau default terhadap masing-masing kreditur.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif