Sementara itu, posisi pendapatan perseroan tercatat sebesar USD135,3 juta. Serta laba kotor perseroan sebesar USD43,4 juta, dan EBITDA sebesar USD53,6 juta.
"Ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan laba bersih perseroan di 2014, di samping tekanan harga," ungkap Direktur Keuangan dan Perencanaan MBSS Ika Bethari, dalam siaran persnya kepada Metrotvnews.com, Sabtu (25/4/2015).
Penyebab lainnya, tambah dia, meningkatnya jumlah docking armada perseroan sesuai persyaratan kelas, serta kurang maksimalnya perputaran armada perseroan untuk pengangkutan jarak jauh.
Menurut Ika, hal tersebut disebabkan karena faktor cuaca buruk. Khususnya pada triwulan III dan IV tahun lalu sehingga memaksa armada perseroan untuk melindungi sheltering guna menjaga keselamatan pelayaran.
"Lalu adanya Penyelesaian Kewajiban Penundaan Utang (PKPU) sebesar USD3,2 juta kepada PT Great Dyke juga turut menekan laba bersih perseroan," lanjut dia.
Namun demikian, apabila dinormalisasi dengan mengeluarkan komponen PKPU, laba bersih perseroan akan berada di angka USD23,3 juta. Menurut dia, klaim PKPU adalah kejadian yang sifatnya one off, dikarenakan struktur kontrak yang dibuat dan ditandatangani oleh manajemen lama.
"Ini adalah satu-satunya kontrak di mana MBSS bukan merupakan pihak yang secara langsung berhubungan dengan counter party," jelas Ika.
Oleh karena itu, manajemen MBSS memiliki keyakinan bahwa kejadian tersebut tidak akan terulang di masa depan, mengingat tidak ada kontrak lain dengan struktur yang serupa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News