Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim. Foto : Medcom/Suci.
Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim. Foto : Medcom/Suci.

Kecurangan Importir Sebabkan Pabrik Baja Nasional Kolaps

Ekonomi baja krakatau steel
Suci Sedya Utami • 21 November 2019 17:43
Jakarta: Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menyatakan kolaps-nya pabrik baja yang ada di dalam negeri salah satunya disebabkan oleh praktik curang yang dilakukan oleh importir.
Silmy mengatakan tumbangnya satu per satu industri baja nasional merupakan akumulasi dari perjalanan di masa lalu. Misalnya saja di di 2010 ada free trade agreement.
 
Kemudian hal yang membuat industri baja makin terpukul yakni karena terjadinya unfair trade dengan adanya kebijakan pemotongan pajak ekspor (tax rebate) bagi produk baja yang dilakukan Pemerintah Tiongkok. Kebijakan tersebut membuat harga baja dari negeri tirai bambu tersebut menjadi lebih murah.
 
"Kemudian importir-importirnya mengelabui HS number sehingga mereka terbebas dari bea masuk yang merupakan pendapatan bagi negara. Kecurangan-kecurangan ini mengakibatkan mereka (pabrik baja nasional) tutup, kolaps," kata Silmy ditemui di Kementerian BUMN, Jakarata Pusat, Kamis, 21 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Silmy bilang KS pun mengalami tekanan dengan praktik-praktik tersebut sehingga membuat perseroan mesti melakukan restrukturisasi. Hal ini ditambah dengan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang membuat prospek industri baja makin tertekan.
 
"Itu memang fakta banyak yang tutup baik swasta maupun kita sendiri juga alami tekanan sehingga harus restrukturisasi," tutur dia.
 
Mantan Direktur Utama PT Pindad (Persero) ini mengatakan konsumsi baja di dalam negeri masih relatif kecil dibandingkan negara tetangga. Ia menyebutkan Indonesia masih 50 kg per kapita per tahun. Sementara Singapura dan Malaysia sudah 300 per kapita per tahun. Bahkan Korea Selatan sudah mencapai 1.100 per kapita per tahun.
 
"Korea 20 kalinya Indonesia. Indonesia masih 1/6-nya Malaysia dan Singapura," ujar Silmy.
 
Hal itulah yang menurut dirinya menjadi potensi, hanya saja siapa yang mengisi potensi tersebut apakah berasal dari impor atau dari dalam negeri. Jika diisi oleh impor, maka akan menekan neraca perdagangan dan rupiah. Sebelumnya, Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) mencatat ada tiga pabrik baja tutup. Serbuana produk impor menjadi penyebab utamanya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif